Berbangga dan Sombong dengan Nasab: Kebiasaan Jahiliyyah

kuncup mawarFenomena orang tua yang menjodohkan anak anak mereka dengan pasangan pilihan mereka sudah jarang terjadi. Namun terkadang masih sering kali ditemukan di sekelompok etnis keturunan arab, demi menjaga nasab mereka, katanya, walaupun beberapa alhamdulillah tidak lagi..  Seorang ayah memperingati anak gadis nya yang memiliki qorinah qorinah jatuh cinta dengan lelaki non arab dengan keras, “Ingat.. kamu itu keturunan arab..” Mereka berdalil dengan wajibnya menikah dengan yang sekufu. mereka menafsirkan sekufu disini adalah sekufu dalam nasab dan keturunan. Padahal anggapan ini tidak lain adalah anggapan jahiliyyah.. hal ini ditegaskan oleh . Wallahul musta’an..

Masalah sekufu ini sesungguhnya telah diperselisihkan oleh para ulama, tetapi yang Haq -InsyaaAllahu ta’aala- yaitu sebagaimana yang di tegaskan oleh Imam Malik, bahwa sekufu hanya ada pada ketaatan beragama dan akhlaq, bukan dilihat dan ditentukan pada nasab atau keturunan. Bahwa kaum muslimin sebagiannya terhadap sebagian yang lain adalah sekufu, meskipun berbeda bangsa, suku, nasab/keturunan dan warna kulit. Yang menjadi ukuran adalah agamanya, apabila agama dan akhlaqnya baik, maka nikahkanlah, walaupun tidak sama nasabnya didalam ketinggian dan kemuliaannya, bahkan bisa jadi nasabnya lebih rendah atau ia seorang yang faqir dan seterusnya.

Allah berfirman: “Hai Manusia, sesungguhnya Kami yang menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Al Hujurat 13

Nabi kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam amat penyayang kepada umatnya, dan kita tahu beliau pun orang arab, namun tidaklah beliau memerintahkan kita untuk menikah dengan yang satu suku. Dari Abu Nadhrah (dia berkata): Telah diceritakan kepadaku orang yang mendengar khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada pertengaha hari hari tasyrik, maka beliau bersabda: “Hai manusia! ketahuilah Sesungguhnya Rabb kamu adalah satu, dan sesungguhnya bapak kamu pun satu. Ketahuilah! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang asing dan tidak ada kelebihan bagi orang asing atas orang arab, dan tidak ada kelebihan bagi orang yang berkulit merah atas orang yang berkuli hitam, dan tidak ada kelebihan atas orang yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah kecuali dengan TAQWA. Bukankah aku telah menyampaikannya?” Mereka (para shahabat) menjawab:”(Benar) bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikannya..” Hadis Shahih riwayat Imam Ahmad

dan Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wsallam telah bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla telah menghapuskan dari kamu kesombongan jahiliyyah dan kebanggaan terhadap bapak bapak kamu. (Bahwa manusia itu) ada yang mukmin yang bertaqwa, dan ada yang durhaka yang celaka. Kamu adalah anak keturunan Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Hendaklah orang orang itu meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaum kaum (mereka). Sesungguhnya mereka (yang kamu banggakan itu) tidak lain melainkan arang (bahan bakar) dari arang arang jahannam. Atau (kalau mereka tidak mau meninggalkan berbangga bangga dengan bapak bapak mereka) pasti mereka akan menjadi lebih rendah di sisi Allah dari binatang ji’laan (yaitu binatang kecil merayap yang berwarna hitam yang beredar kotoran dihidungnya) yang menolak kotoran dengan hidungnya” Hadis Shahih dikeluarkan Abu Dawud, Tirmidzy, Ahmad dan selainnya.

Dan diantara sifat orang orang jahiliyyah adalah kesombongan mereka dan berbangga bangga serta bermegah megahan dengan nasab nasab mereka dan merendahkan nasab yang lainnya. Semuanya itu sesungguhnya telah dilenyapkan dan dihapuskan oleh Allah Rabbu ‘alamin sehingga tidak ada lagi berbangga bangga dan sombong terhadap nasab dan keturunan. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa membanggakan keturunan adalah dari sifat orang jahiliyyah yang telah dilenyapkan oleh Islam.

 

(dalil dalil syar’i dikutip dari buku Pernikahan dan Hadiah untuk Pengantin – Abdul Hakim bin Amir Abdat )

12 thoughts on “Berbangga dan Sombong dengan Nasab: Kebiasaan Jahiliyyah

  1. judulnya ngak tepat???kalau NASAB kita harus tahu dan dalam Islam Nasab kita harus jelas??/yang salah adalah membanggakan bangsanya sendiri,karena orang arab adalah bersuku2,ada ribuan suku dalam bangsa arab,dulu jaman jahiliah(bodoh) orang2 arab sangat membangakan sukunya,karena semakin banyak sukunya semakin kuat dan dihormati dan disegani oleh suku2 yang lain,tapi kalau nasab jelas dalam ISLAM harus dijaga karena Nasab menyangkut hukum2 dalam Islam,contohnya perkawinan dan warisan,kalau kita tidak tahu Nasab kita bisa jadi kita nikah dengan bibi kita atau kita nikah dengan adik kandung kita yang tidak pernah bertemu sama sekali,dan Nasab orang Arab sangat jelas yaitu dari Nabi Ibrahim A.S mempunyai anak Nabi Ismail dari istrinya Hajar dan dari Nabi Ismail lah lahir bangsa Arab,sedangkan istri Nabi Ibrahin Sarah melahirkan Ishak yang melahirkan bangsa Israel,jadi secara nasab ARAB dan ISRAEL adalah satu bapak lain ibu,sedangkan bangsa2 yang lain lahir dari keturuna anak Nabi Nuh yaitu Sam yang melahirkan bangsa eropa yang berkulit bule,ham yang melahirkan bangsa Afrika yang berkulit hitam legam dan Yafidz yang melahirkan bangsa Asia yang berkulit kuning,jadi bukan berbangga dengan Nasabnya,Nabi Muhamad S.A.W juga Bernasab MUHAMMAD SAW bin ABDULLAH bin ABDUL MUTHALIB (alias SYAIBAH) bin HASYIM (alias AMRU) bin ABDU MANAF (alias AL MUGHIRAH) bin QUSHAY (alias ZAID) bin KILAB bin MURAH bin KA’B bin LU’AY bin GHALIB bin FIHR ( julukannya QURAISY dan jadi cikal bakal nama kabilah QURAIS) bin MALIK bin AN-NADHR (alias QAIS) bin KINANAH bin KHUZAIMAH bin MUDRIKAH (AMIR) bin ILYAS bin MUDHAR bin NIZAR bin MA’AD bin ADNAN dan Quraish adalah Marganya atau sukunya,jadi jangan salah artikan nasab dengan marga atau suku.
    sekarang apakah anda tahu nasab anda???????
    wallahu a’lam bisowab.

  2. Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

    Menikahkan anak dengan yang se-marga, se-trah, atau apa namanya itu kan hak urusan masing-masing orang. Mengapakah kita harus komplain terhadap urusan orang lain. Lapangkan hati, dan tidak perlu mengkomplainkan urusan orang lain.

    Ayahanda saya de-facto blasteran Arab-Jawa, nyatanya saya baik-baik saja. Nenek saya dari garis ibunda saya adalah syarifah, namun menikah dengan kakek/akik saya yang Jawa, nyatanya baik-baik saja.

    Saya punya saudari/kakak-perempuan. Ia dulu berpacaran berkali-kali dengan pemuda Jawa. Namun apa mau dibilang, ternyata tidak berjodoh.
    Ibunda saya bahkan pernah memaksa saudari saya itu untuk menikah dengan keponakan ibunda saya yang berdarah Jawa, tapi saudari saya itu “ora demen (istilah Jawa yang berati *tidak tertarik*)”.
    Pacaran beberapa kali dengan pemuda Jawa, ternyata saudari saya tidak juga berjodoh hingga usianya 30 tahun. Masalah putus cintanya banyak, dan saya sebagai adiknya adalah saksi kisah cinta dia sebagai syarifah yang menjalin hubungan dengan pemuda Jawa. Di antara ex/mantan pacar kakak perempuan saya itu, ada yang bilang bahwa “kurang cocok dengan perwatakan *cewe’ berdarah arab* yang tegas”, lah lah lah, salah siapa kek? Bukan salah kami kan sebagai orang berdarah arab/yaman soal berwatak seperti apa adanya. Lah, terus siapa kalau gitu yang sebenarnya diskrimatif?
    Barulah pada akhirnya, saudari saya bertemu dengan jodohnya yang “tanpa terduga” ternyata masih berjalur nasab ke trah Azmatkhan Malaysia, meskipun kakak ipar saya itu bernama personal dengan dialek Jawa dan lahir di Jawa. Sehingga, bertemulah jodoh “yang sejalur” sama-sama keturunan dari Sayyid Abdul Malik Bin Alwi Amul Faqih. Apa ini paksaan? Apa ini kesombongan? Ini atas kehendak Allah. Saya yang menjadi wali ijab-qobul-akad-nikahnya, dengan saksi ustdaz PONPES yang tempat saya dan saudari saya ngaji/nyatrik disitu.
    Well done. Jodoh itu di tangan Allah. Jangan kecewa kalau Anda seorang pemuda non-arabic, non-yamani, atau non-Alawyin jika tidak berjodoh untuk menikahi harim arabic, harim yamani, atau bahkan tidak jodoh untuk menikahi seorang syarifah, sedangkan yang jelas sayyid saja belum tentu jodoh dengan syarifah jika Allah tidak menghendaki. Maka… mau komplainkah terhadap urusan jodoh yang hak penentuannya di tangan Allah? Be a wise guys …

    Btw, numpang iklan … hehehe saya nyari jodoh, bolehlah dari gadi suku mana saja asli Indonesia, syukur ya kalau bisa (& kalau jodoh) ya seorang syarifah, yang penting dia gadis muslim yang sholihah, baik budinya/akhlaknya, saya akan terima jika memang Allah menjodohkannya untuk saya. Ada yang mau daftar? ups … e-mail saja ke . Iklan selesai. & thanks Admin atas kolom iklan gratisnya.

    Wa’alaikumsalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh’

  3. Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,

    Menikahkan anak dengan yang se-marga, se-trah, atau apa namanya itu kan hak urusan masing-masing orang. Mengapakah kita harus komplain terhadap urusan orang lain. Lapangkan hati, dan tidak perlu mengkomplainkan urusan orang lain.

    Ayahanda saya de-facto blasteran Arab-Jawa, nyatanya saya baik-baik saja. Nenek saya dari garis ibunda saya adalah syarifah, namun menikah dengan kakek/akik saya yang Jawa, nyatanya baik-baik saja.

    Saya punya saudari/kakak-perempuan. Ia dulu berpacaran berkali-kali dengan pemuda Jawa. Namun apa mau dibilang, ternyata tidak berjodoh.
    Ibunda saya bahkan pernah memaksa saudari saya itu untuk menikah dengan keponakan ibunda saya yang berdarah Jawa, tapi saudari saya itu “ora demen (istilah Jawa yang berati *tidak tertarik*)”.
    Pacaran beberapa kali dengan pemuda Jawa, ternyata saudari saya tidak juga berjodoh hingga usianya 30 tahun. Masalah putus cintanya banyak, dan saya sebagai adiknya adalah saksi kisah cinta dia sebagai syarifah yang menjalin hubungan dengan pemuda Jawa. Di antara ex/mantan pacar kakak perempuan saya itu, ada yang bilang bahwa “kurang cocok dengan perwatakan *cewe’ berdarah arab* yang tegas”, lah lah lah, salah siapa kek? Bukan salah kami kan sebagai orang berdarah arab/yaman soal berwatak seperti apa adanya. Lah, terus siapa kalau gitu yang sebenarnya diskrimatif?
    Barulah pada akhirnya, saudari saya bertemu dengan jodohnya yang “tanpa terduga” ternyata masih berjalur nasab ke trah Azmatkhan Malaysia, meskipun kakak ipar saya itu bernama personal dengan dialek Jawa dan lahir di Jawa. Sehingga, bertemulah jodoh “yang sejalur” sama-sama keturunan dari Sayyid Abdul Malik Bin Alwi Amul Faqih. Apa ini paksaan? Apa ini kesombongan? Ini atas kehendak Allah. Saya yang menjadi wali ijab-qobul-akad-nikahnya, dengan saksi ustdaz PONPES yang tempat saya dan saudari saya ngaji/nyatrik disitu.
    Well done. Jodoh itu di tangan Allah. Jangan kecewa kalau Anda seorang pemuda non-arabic, non-yamani, atau non-Alawyin jika tidak berjodoh untuk menikahi harim arabic, harim yamani, atau bahkan tidak jodoh untuk menikahi seorang syarifah, sedangkan yang jelas sayyid saja belum tentu jodoh dengan syarifah jika Allah tidak menghendaki. Maka… mau komplainkah terhadap urusan jodoh yang hak penentuannya di tangan Allah? Be a wise guys …

    Btw, numpang iklan … hehehe saya nyari jodoh, bolehlah dari gadis suku mana saja asli Indonesia, syukur ya kalau bisa (& kalau jodoh) ya seorang syarifah, yang penting dia gadis muslim yang sholihah, baik budinya/akhlaknya, syukur cantik wajahnya biar “saya langsung smile” kalau menatapnya hehehe, saya akan terima jika memang Allah menjodohkannya untuk saya. Ada yang mau daftar? ups … e-mail saja ke the.watcher.from.sky@gmail.com. Iklan selesai. & thanks Admin atas kolom iklan gratisnya. Semoga Allah berkenan melimpahkan rahmat, berkah, dan rizki halal melimpah buat Admin dan pembaca sekalian. Aamiin!

    Wa’alaikumsalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh’

  4. ooh…rupanya ini ya, dasarnya kenapa ada yang mengharuskan menikah dengan sesama suku dsb. saya juga sering dengar teman-teman bahwa orang suku tertentu diarahkan ortu mereka utk menikah dgn satu suku yg sama. intinya pemahaman mereka akan definisi “sekufu” yang berbeda2, ya?

    thx infonya…

  5. Assalamualaikum wr wb..
    stlh mbaca tulisan d atas, sy jd ingin sdkt bcerita..
    sya seorg keturunan jawa.pnh bpacaran dg seorg sayyid.
    Hub kami baik2 saja, smp suatu hari sya dgr 1 bln lg dy akan menikah dg seorg syarifah..katanya krn dy harus menikah dg yg sama2 arab. Yg sekufu..
    awalnya shock bgt dgrnya.bner2 bulan yg mnguras air mata..
    kok bsa mendadak bgt.apa dy dijodohkan?tnyt tidak..akhirnya dy mengakui k sya klo dy tpaksa jg mendekati gadis itu slm dkt dg sya hanya karena org tuanya menghendaki pernikahan dg sesama arab.knp tdk jujur kpd sya dan msh terus bhub dekat dg sya, alasannya krn katanya dy nyaman dan sayangnya k sy bkn k gadis pilihannya itu.bahkan stlh menikahpun dy msh srg memberikan perhatian spt sblmnya walopun sdh tdk sy gubris…
    Tdk apa2 klo mmg harus menikah dg org yg sebangsa, tp bkn spt itu caranya.krn akan mnyakiti byk hati..
    Yg mengecewakan, dy spt tdk sadar telah melukai hati seorg wanita dg bsikap spt itu..seolah tdk pnh melakukan kesalahan, msh saja bsikap manis pd sya, pdhl sdh ada istri d rmh..
    sgt disayangkan, knp ssorg yg ktanya msh keturunan Rasul tdk bsa bersikap spt beliau…
    klo mmg mau “ngarani” harus nikah dg “siapa” krn dirasa lbh baik dr org lain, knp mrk tdk mperbaiki diri sndr tlebih dl…miris..
    Wa’alaikumsalam wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s