Untuk Para Orang Tua dan Wali yang Memaksakan Perjodohan kepada Anak Anaknya..

print-9

Bagaimanakah status hukum yang sebenarnya menurut Islam apabila ada seorang wanita apakah ia gadis atau janda sama saja hukumnya tidak ada perbedaannya, yang telah dinikahkan secara paksa oleh bapaknya atau walinya padahal ia tidak menyukiaii laki laki pilihan bapaknya itu sedangkan ia misalnya telah menyukai laki laki lain yang telah menjadi pilihannya dan dia sangat menyukainya?”


Jawabannya adalah: Wanita itu segera mendatangi sulthon atau wali hakim atau penguasa seperti Hakim atau Daqhi (kalau di Indonesia seperti mendatangi KUA) kemudian hakim atau Qadhi tersebut memberikan hak mutlaq kepadanya untuk menentukan dan menetapkan pilihan sebagaimana Nabi yang mulia dan sangat kasih shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan hak mutlaq kepada wanita yang mengalami kejadian seperti ini. Kemudian ia memilih :

Apakah ia akan melanjutkan pernikahannya atau tidak?

Kalau jawabannya tidak, maka Hakim atau Qadhi segera membatalkan pernikahannya sebagaimana Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam telah membatalkan pernikahan Khansaa Karena dia telah dinikahkan oleh bapaknya dengan laki laki yang dia tidak menyukainya. Padahal dia telah menyukai dan mencintai Abu Lubabah. Kemudian Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam setelah membatalkan pernikahan Khansaa’ beliau memerintahkan kepada orang tua Khansaa’ agar mempertemukan Khansaa’ (yakni menikahkannya) dengan orang yang dia cintai yaitu Abu Lubabah. Akhirnya menikahlah Khansaa’ dengan Abu Lubabah dan bahagialah mereka. Maka benarlah apa yang dikatakan Nabi yang Mulia dengan satu sabdanya yang agung : Tidak ada bandingannya bagi duaorang yang bercinta seerti keadaan keduanya setelah menikah

Perbuatan Nabi yang mulia ini shalallahu ‘alaihi wasallam hendaknya menjadi contoh yang baik bagi para Hakim dan Qadhi di negeri ini khususnya. Demikian juga hendaknya menjadi pelajaran kepada setiap bapak agar lebih bijak dalam menikahkan anak anak perempuannya. Karena masalah hati tidak bisa dipaksakan, walapun badan dipaksa dan terpaksa mengikutinya. Karena sebagaimana laki laki, maka wanita pun dalam masalah ini mempunyai hak yang sama dalam menentukan pilihannya. Kalau dia janda, maka dia wajib diajak musyawarah. Dan kalau dia gadis maka dia ditanya apakah dia mau atau tidak.

Janganlah kau paksa buah hatimu!

Bukankah telah lewat padamu satu masa dimana kau berada didalam penantian yang menanti nanti kehadiran si buah hati?

Apatah lagi dia hanya seorang wanita dimana nabi yang mulia telah memerintahkan kepada kita untuk berpesan dan berwasiat baik baik kepada mereka.

Kemudian setelah pak Hakim atau Qadhi membatalkan pernikahan wanita yang dipaksa itu, seraya memberikan pengarahan dan petunjuk kepada orang tuanya, kalau kalau si gadis ada mencintai laki laki muslim yang lain, dimana keduanya telah saling mencintai dan menyukai, dan laki laki pilihan anaknya itu shalih, walaupun…

Maka pertemukanlah, nikahkanlah, pertautkanlah dia dengan orang yang dia cintai sebagaimana Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan anaknya dengan Abu Lubabah, seorang laki laki shalih yang dia cintai dan mencintainya..

(dari buku Pernikahan dan Hadiah untuk Penganti – Abdul Hakim bin Amir Abdat )

One thought on “Untuk Para Orang Tua dan Wali yang Memaksakan Perjodohan kepada Anak Anaknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s