Koreksi Masalah Niat (Muroja’ah Bab Niat) ..[part 1]

Bismillah

Hendaklah kita ini sering sering muroja’ah kembali ke Bab niat, mengingat kembali sebenarnya apa niat kita, senantiasa memperbaharuinya, dan menilik kembali apa sudah benar benar bersih, ataukah masih terkotori oleh keinginan tampil dan terkenal dikalangan manusia, menginginkan sanjungan sanjungan yang pada hakikatnya hanya memusnahkan hakikat balasan kebaikan tersebut..

Banyak sekali orang yang melakukan puasa, tetapi dari puasanya itu mereka tidak mendapatkan apa apa kecuali rasa lapar dan betapa bayak orang yang melakukan Qiyamullail tapi dari Qiyamullail itu mereka tidak mendapatkan pahala apa apa kecuali begadang” [Diriwayatkan Ibn Majah, dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab shahihul jami’ no 3482]

Ilmuilah syarat syarat diterimanya suatu amal perbuatan yang jika salah satu diantara syarat tersebut hilang, maka tidak lah ia diterima di sisi Allah. Dan ketahuilah bahwa syarat tersebut adalah Ikhlas karena Allah dan Amal tersebut sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam dalam sunnahnya.
Namun dalam tulisan ini, akan dikhususkan pada perkara pertama yaitu niat ikhlas karena Allah.

 

HADITS NIAT


عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”


Hadits niat ini sudah sangat ma’ruf ditelinga kita. Hadits I di Hadits Arba’in An Nawawi, pasti banyak diantara para penuntut ‘ilmu yang sudah menghafalnya. Bahkan hadis ini pula yang digunakan sebagai dalil seorang da’I di televisi saat ditanya bagaimana hukumnya bernyanyi, bermain musik tapi didalamnya memuji muji Allah. Spontan saja da’I yang menyesatkan ini bilang, “amal itu tergantung niatnya.. jadi tidak apa apa” sembarangan saja..

Hadits ini muncul karena suatu sebab, yaitu bahwa para shahabat melapor kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bahwasanya ada seseorang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah untuk menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais, dan bukan untuk mencari pahala berhijrah. Oleh karena itu, ia dijuluki dengan ‘Muhajjir Ummu Qais’ atau orang yang berhijrah demi Ummu Qais.

Imam Ahmad, Imam Baihaqi dan Imam Syafi’I berkata mengenai hadits ini, bahwa ia berisi sepertiga ilmu. Hal ini karena amal perbuatan manusia itu ada dalam hati, lidah dan anggota badan. Dan niat berada di salah satu dari ketiga bagian tersebut. Bahkan para ulama yang lain berpendapat hadits ini adalah separuh dari ibadah sebab ia merupakan timbangan seluruh amal batin. Separuhnya lagi adalah amalan lahir. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tiada suatu amalan kecuali harus ada niatnya.
Secara bahasa, arti niat (an-niyyah) adalah maksud atau tujuan. Sedangkan arti niat dalam terminologi syara’ disini maksudnya adalah mengkhendaki sesuatu yang diiringi dengan perbuatan. Niat, ada dua macam,

1. Niyyatul-‘amali (نية العمل) yaitu niat untuk amalan apa yang akan kita kerjakan. Niat ini mempunyai dua fungsi yaitu: niat untuk membedakan antara kebiasaan dengan ibadah, dan niat untuk membedakan ibadah yang satu dengan yang lain.

Contoh dimana niat membedakan antara kebiasaan dengan ibadah misalnya adalah jika duduk di masjid, bisa diniatkan untuk sekedar mampir istirahat, sebagai bentuk kebiasaan saja, tapi bisa juga diniatkan sebagai ibadah, yaitu berniat untuk I’tikaf. Jadi yang membedakan antara keduanya adalah niat. Misalnya lagi, jika seseorang member makan pada binatang peliharaannya jika ia berniat melaksanakan perintah Allah, maka sungguh ia akan memperoleh pahala. Namun jika ia lakukan hanya untuk menjaga hewan peliharaan tersebut sebagai harta bendanya, maka tidak ada pahala baginya.

Contoh dimana niat membedakan antara ibadah satu dengan yang lain yaitu misalnya seseorang mengerjakan shalat empat rakaat pada waktu dzuhur. Shalat tersebut bisa shalat sunnah rawatib empat rakaat, bisa juga shalat fardhu dzuhur. Tidak ada yang membedakan diantara keduanya kecuali niatnya.

2. Niyyatul-ma’muuli lahu (نية المعمول له) yaitu niat untuk siapa kita beramal. Contoh: A dan B shalat berjama’ah, berjajar dalam satu shaf yang sama, tetapi A mendapat pahala karena niatnya ikhlas lillahi Ta’ala, sedangkan B mendapatkan dosa karena riya`

CARILAH PAHALA DALAM PERBUATAN YANG MUBAH !!


Maka, carilah pahala yang banyak dari perbuatan perbuatan mubah yang diniatkan untuk ibadah. Contoh kecil yang lain adalah makan dan minum dengan niat agar bisa melakukan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Makanlah sahur karena terdapat berkah dalam makan sahur itu” [Mutafaqq ‘alayh; al Bukhari (1923) dan Muslim (1095).

Bahkan dalam hal mencari nafkah oleh suami, yang saat ini dipandang sebagai suatu kewajiban bagi kaum laki, maka hiasilah perbuatan tersebut dengan niat ikhlas untuk memperoleh pahala dari Allah subhanahhu wata’ala. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Tidaklah engkau membelanjakan sesuatu demi mendapatkan ridha Allah ‘azza wa jalla melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, termasuk sesuatu yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” [Mutafaqq ‘alayh; Al Bukhari (56) dan Muslim (1628)] ,,,,

(terharu..T_T)
Dan banyak lagi perbuatan perbuatan mubah yang dilakukan setiap hari hingga jangan lewatkan makan, minum dan tidur, kecuali sertailah dalamnya dengan niat untuk menambah ketaqwaan kepada Allah, menambah tenaga untuk menuntut ‘ilmu syar’i, menghilangkan gangguan, mengokohkan tubuh, dan seterusnya.

Seseorang bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku satu perbuatan yang menjadika aku selalu beramal karena Allah!” Lalu dikatakan kepadanya, “Niatkanlah kebaikan, karena engkau akan selalu beramal walaupun sebenarnya engkau tidak melakukan apa apa, karena niat akan selalu beramal walaupun amal tersebut tidak ada.” [Kitabul Ikhlaash – Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah]

BERAMALLAH SEBAGAIMANA RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAYHI WASALLAM BERAMAL


Imam Nawawi rahimahullah membagi amalan yang disertai dengan niat menjadi tiga keadaan:
Pertama, adalah amalan yang dilakukan seseorang karena takut kepada Allah. Ini adalah bentuk ibadahnya budak
Kedua, adalah amalan yang dilakukan seseorang karena ingin mencari surge dan pahala. Ini adalah jenis ibadahnya pedagang
Ketiga, amalan yang dilakukan seseorang disebabkan rasa malunya kepada Allah, menunaikan hak ubudiyyah, dan sebagai bentuk kesyukuran kepada-Nya, sedangkan orang tersebut masih melihat dirinya belum bisa menunaikannya secara sempurna. Selain itu, hatinya senantiasa khawatir apakah amalnya ini diterima atau tidak oleh Allah. Ini adalah bentuk ibadahnya orang orang yang merdeka

Hal seperti inilah yang diisyaratkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada beliau perihal ibadah shalat malam yang beliau lakukan sehingga bengkak kedua kakinya

“Yaa Rasulullah, kenapa engkau membebani dirimu seperti ini? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang” Beliau menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur?” [Mutafaqq ‘alayh; Al Bukhari (4837) dan Muslim (2870)]]

BETAPA BERATNYA IKHLAS


Imam Nawawi Rahimahullah berkata, ketahuilah bahwa keikhlasan itu seringkali dirusak oleh penyakit ujub yaitu kagum terhadap diri sendiri. Barangsiapa yang ujub oleh amalnya, maka terhapuslah pahala amalannya. Demikian juga dengan kesombongan, barangsiapa yang menyombongkan diri dengan amalnya, maka terhapuslah pula pahala amalannya.

Al Harits Al Muhasibi mengatakan, “Yang disebut Ikhlas adalah hanya bertujuan meraih ridha-Nya semata didalam melakukan amalan dan tidak menginginkan selainnya. Sedangkan Riya’ itu ada dua macam: Pertama, seseorang yang melakukan ketaatan hanya demi manusia. Kedua, seseorang yang melaksanakan ketaatan demi manusia dan demi Rabb-nya. Keduanya sama sama menghapus pahala ketaatan. Dalil masalah ini adalah firman Allah dalam Surat Al Hasyr [59]: 23 :

الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Yang Maha Pemaksa dan Maha Sombong. Maha Suci Allah dari apa apa yang mereka persekutukan

As Samarqandi rahimahullah berkata: “Amalan yang dilakukan seorang hamba karena Allah akan diterima; sedang yang dilakukan demi manusia akan ditolak. Misalnya, seorang yang melaksanakan shalat dzuhur dengan maksud mencari ridha Allah tapi kemudian ia memanjangkan rukun rukunnya, bacaan bacaannya, membaguskan pelaksanaannya demi manusia maka pangkal dari ibadah tersebut bisa diterima. Namun pemanjangannya dan perbuatan membagus baguskan pelaksanaannya demi manusia maka jelas tidak diterima.

Syaikh Izzuddin Ibn Abdissalam pernah ditanya mengenai seseorang yang mengerjakan shalat lalu orang tersebut memanjangkan shalatnya demi manusia maka beliau menjawab, “Aku berharap, kiranya hal seperti itu tidak sampai menggugurkan amal. Ini jika penyekutuanitu hanya terjadi pada sifat amal perbuatan tersebut. Akan tetapi, jika hal ini terjadi pada pangkal amal, mislanya jika dia mengerjakan shalat fardhu dengan niat karena Allah dan manusia sekaligus maka shalatnya tidak bisa diterima karena penyekutuannya terjadi pada pangkal amal.

Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal dari orang lain yang ingin didengar oleh yang lain, dari orang yang ingin dilihat oleh yang lainnya dan dari orang yang hanya bermain main saja, tidak juga dari seseorang yang berdo’a, kecuali seseorang yang berdo’a dengan memohon ketetapan hati.” [Kitabul Ikhlaash – Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah]

KARENA NIAT YANG IKHLAS

Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak rahimahullah sesungguhnya beliau berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Hayyan berkata, ‘Yang menguasai seluruh amal ini adalah niat, karena dengan niatnya seseorang dapat mencapai puncak yang tidak dicapai oleh amalnya.” [Kitabul Ikhlaash – Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah]

Setan Berlepas diri dari menggoda mereka

Hai orang orang yang berusaha untuk ikhlas, ingatlah firman Allah dalam surat Al Hijr ayah 39-40 :

٤٠ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ٣٩. قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

Maka, bagaimana lagi iblis laknatullah dan tentaranya dapat mengggoda manusia dan menyesatkan mereka, jika hati para hamba tersebut hanyalah menginginkan wajah Allah azza wajalla?

Kedudukan yang tinggi di akhirat, serta selamatnya mereka dari azab Allah

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al insan 10-19:

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam keni’matan dan kerajaan yang besar.

Subhanallah… Allahumma inni as’alukal jannah wa a’uudzubika minannaar… ^mm^

Dimudahkan Untuk Mewujudkan Amalnya tersebut

Dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits marfu’ bahwa Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Barangsiapa meminjam harta orang lain dengan niat akan melunasinya, maka Allah akan membantu melunaskannya. Sebaliknya, barangsiapa yang meminjam harta orang lain dengan niat ingin menghanguskannya maka Allah pun akan menghanguskannya.”

Perhatikanlah, bagaimana niat yang baik itu menjadi penyebab dimudahkan baginya untuk mendapatkan rezeki, dan Allahpun memampukannya membayar hutang dan sebaliknya, niat yang buruk menjadi penyebab datangnya kebinasaan.

Demikian juga niat itu berlaku dalam masalah masalah yang bersifat mubah dan hal hal keduniaan. Barangsiapa didalam berusaha dan melakukan pekerjaan pekerjaan keduniaan diniatkan untuk menunaikan hak dna kewajiban dan sunnah, sedangkan dia hiasi perbuatan tersebut dengan niat yang baik bahkan dalam hal makan dan minum, maka perbuatan ini sungguh akan mendatangkan pahala.

Masih banyak keutamaan keutamaan orang orang yang ikhlas dijalan Allah, salah satu contohnya adalah apa yang saya baru saja baca ceritanya di link ini, atas rekomendasi teman, dan karena artikel tersebut juga saya tergerak untuk membuat tulisan mengenai hal ini.

(Bersambung ke bagian II)

5 thoughts on “Koreksi Masalah Niat (Muroja’ah Bab Niat) ..[part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s