Riya’ dan yang tidak termasuk Riya’ (Muroja’ah Bab Niat) ..[part II]

WASPADA RIYA’

Mengenai Riya’ Al Harits Al Muhasibi mengatakan, “Yang disebut ikhlas adaah hanya bertujuan meraih ridha-Nya semata dalam melakukan ketaatan (amalan) dan tidak menginginkan yang selainnya. Sedangkan Riya’ itu terbagi dua, melakukan ketaatan (amalan) demi manusia saja dan melakukan ketaatan demi manusia dan Rabb manusia, keduanya sama saja. Menghapuskan pahala amal ketaatan. Dan ketahuilah, Riya’ itu tidak hanya terjadi pada pengerjaan amalan, tetapi juga dalam hal meninggalkan amalan”.

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Meninggalkan suatu amalan karena manusia adalah Riya’, sedangkan mengerjakan suatu amalan karena manusia adalah syirik. Yang disebut ikhlas adalah jika Allah berkenan menyelamatkanmu dari keduanya.” Artinya, orang yang berniat melakukan suatu ibadah lalu dia meninggalkannya karena takut dilihat orang lain maka dia telah berbuat riya’, ini karena ia meninggalkan amalan karena manusia. Sedangkan jika ia meninggalkan suatu amalan misalnya shalat untuk dikerjakan secara sembunyi sembunyi maka hal ini memang dianjurkan, kecuali untuk shalat fardhu (bagi laki laki), zakat wajib, atau jika dia seorang imam yang menjadi panutan.

Adalagi yang namanya tasmi’ yaitu seseorang melakukan suatu amalan karena Allah ditempat sunyi yang tidak diketahui orang lain lalu ia menceritakannya pada orang lain. Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyiarkan amal kebaikannya maka Allah akan menyiarkan aibnya; dan barangsiapa melakukan perbuatan riya’ maka Allah akan memperlihatkan keburukannya.” [Mutafaqq ‘alayh; A Bukhari (6499, 7152) dan Muslim (2987) dari Hadits Jundub rahimahullah]

Terkhususkan para penuntut ilmu dan orang orang yang sedang berusaha menghafal Qur’an serta mengajarkannya, dan orang orang yang gemar bersedekah [Baarakallahu fiikum] coba kita ingat kembali hadits berikut ini:

Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan urusanya pada hari Kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan ia dapatkan, diapu mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab. “Aku berperang dijalan-Mu sehingga aku mati syahid.” Allah berkata lagi, “Engkau berdusta, engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani, dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka.

Dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, juga orang yang membaca alQur’an, dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, dia pun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Ia menjawab “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, aku pun membaca AlQur’an dijalan-Mu,” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau belajar agar dikatakan sebagai orang alim! Dan membaca AlQur’an agar dikatakan sebagai Qari! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka.

Dan orang yang diberikan keluasan dengan limpahan harta dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, diapun mengetahuinya, Allah bertnaya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku meninggalkan satu jalanpun yang dicintai oleh-Mu untuk berinfaq kecuali aku berinfaq dijalan tersebut.” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka. [Riwayat Muslim [1905]

Dan Sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam:

“Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, tapi dia mencarinya agar mendapatkan materi duniawu, maka dia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari Kiamat” [Riwayat Abu Dawud (3664) dengan sanad yang shahih]

Maka, wahai penuntut ilmu, pengajar dan penghafal Qur’an, serta orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah sehingga ia gemar bersedeqah, berhati hatilah dengan apa yang ada didalam hati kalian. Semoga kita tidak termasuk orang orang yang disebutkan didalam hadits diatas.

Nas’alullohal ikhlaas..

YANG TIDAK TERMASUK RIYA’

Ada diantara perbuatan perbuatan hamba yang ternyata (walhamdulillah) bukanlah termasuk diantara riya’. Diantaranya adalah:

1. Pujian seseorang kepada yang lainnya karena suatu perbuatan baik.

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu beliau bersabda:

“Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ditanya, “Bagaimana menurutmu tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain memujinya?” Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan. “ (Riwayat Muslim no 2462)

2. Kegiatan seorang hamba yang beribadah disekitar ahli ibadah

Al-Maqdisi berkata,”Terkadang seseorang menginap dirumah orang yang ahli dalam bertahajdud lalu ia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia melakukan shalat hanyalah satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan mereka dan dia juga berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena mereka, niscaya tidak akan timbul didalam dirinya kegiatan seperti ini. Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya’ bahkan secara umum, hal ini bukanlah riya’ sama sekali, akan tetapi perlu dirinci yaitu pada dasarnya, setiap mukmin itu suka melakukan ibadah ibada berupa ketaatan kepada Allah akan ttapi berbagai kendala menghalanginya. Begitu banyak kelalaian yang telah melupakannya, mungkin saja menyaksikan orang lain terlah menyebabkan kelalaian itu lenyap.” Kemudian beliau berkata, “Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah disuatu tempat, dimana dia dapat melihat orang lain sedangkan oranglain tidak dapat melihat dirinya. Jika ia menemukan jiwanya tenang dalam beribadah, maka yang demikian itu adalah hati yang ikhlas. Sedangkan jika jiwa tersebut tidak tenang, ingin dilihat, maka ketenangan jiwanya ketika beribadah dihadapan orang lain adalah sebuah sikap riya’..”

Dan tidaklah rasa malas yang ada pada diri seseorang ketika menyendiri kecuali telah menimpanya apa yang disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ”Tidaklah tiga orang yang berada pada suatu kampong atau disuatu pedalaman sedangkan mereka tidak melaksanakan shalat berjama’ah kecuali syaitan akan menguasai dan mengalahkan mereka, karena itu berjama’ahlah kalian, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang menyendiri.” [HR Ahmad didalam Musnad, an-Nasa’I, Abu Dawud dan Ibn Hibban dalam Shahihnya, Shahihul Jaami’ no (5577)]

3. Memakai pakaian atau sandal yang bagus

Dalam sebuah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibn Mas’ud rhadiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam berkata: “Tidak akan masuk surge orang yang didalam hatinya ada kesombongan sebesar zarah” lalu seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang indah dan sandal yang indah,” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” [HR. Muslim no 91 (147), dna At Tirmidzi, no. 1999]

4. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya

Ketahuilah, ini termasuk diantara kewajiban bagi seorang muslim, yaitu untuk tidak membicarakan dosa dosanya yang telah lalu. Tidak jarang dikalangan ‘ngaji’ sedang membicarakan masa lalunya saat masih bermaksiat kepada Allah bahkan disertai rasa bangga (Astagfirulloh…) padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Semua umatku akan diampuni kecuali orang orang yang melakukan dosa secara terang terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa pada malam hari, dan Allah telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi hari dia mengatakan, ‘Wahai Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu,’ padahal Allah telah menutupinya sedangkan pagi hari dia membuka apa apa yang telah Allah tutupi.” [HR. Bukhari (no 6069) dan Muslim (2990) -52-]

5. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta

Al-Maqdisi berkata, “Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah subhanahu wata’ala tanpa dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi keberadaannya merupakan fitnah bagi orang orang yang lemah.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tathimmus shaalihaat..

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat terutama bagi saya dan antum semua.

Maraji’:

Syarah Hadits Arba’in, Kompilasi Empat Ulama Besar: Imam An Nawawi, Imam Ibn Daqiq Al-‘Id, Syaikh Abdurrahman As Sa’di dan Syaikh Al Utsaimin. [recommended book to be one of you-read-most-book, and find the better one, compilation from 5 big Schollars; Additional schollar: Sheikh Abdul Muhsin Al Badr,]

Ikhlas – Syarat Diterimanya Ibadah . Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah [terjemahan dari  Kitabul Ikhlaash]

2 thoughts on “Riya’ dan yang tidak termasuk Riya’ (Muroja’ah Bab Niat) ..[part II]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s