Wadi, Madzi dan Mani

Bismillah..

Wahai saudari dan saudaraku, marilah kita menaruh perhatian kepada hal ini; karena sering kali kita rancu membedakan mana diantaranya yang mani, madzi, wadi, mana yang najis, mana yang tidak najis. Alhamdulillah Agama kita yang telah sempurna ini memberikan penjelasan lengkap dan rinci mengenai hal ini. Demikianlah penjelasan yang saya temukan dan saya salin secara singkat mengenai wadi, madzi dan mani. Ketiganya ini ditemukan baik pada wanita maupun laki laki.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa para ulama mengatakan, jika sesuatu dihukumi najis, makaia adalah kotoran dan wajib dijauhi oleh seorang muslim dan harus dibersihkan bila mengenai sesuatu. Diantaranya ada yang setatusnya disepakati kenajisannya, adapula yang diperselisihkan. Diantara yang termasuk najis yang telah disepakati para ulama adalah kotoran (tinja/feses), air kencing, madzi (yang akan kita bahas), wadi (ini juga, insyaaAllah), darah haidh dan nifas, kotoran hewan yang dagingnya tidak dimakan, air liur anjing, serta beberapa jenis bangkai.

Kali ini hanya akan dibahas (mungkin lebih tepatnya ‘dikutip tulisan tulisan yang berkaitan) mengenai wadi, madzi dan mani, karena tidak jarang kita merasa rancu membedakannya.

1. Wadi

Yaitu cairan kental yang biasanya keluar setelah seseorang selesai dari buang air kecil[1] atau saat mengejan setelah buang air besar[4]. Wadi ini dihukumi najis dan wajib untuk disucikan sebagaimana kencing, namun tidak wajib untuk mandi[1]. Mengenai hal ini, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

Wadi itu keluar setelah proses kencing selesai. Untuk itu hendaklah seorang Muslim (Muslimah) mencuci kemaluannya (setelah keluarnya wadi) dan berwudhlu serta tidak diharuskan untuk mandi.” (HR. Ibnu Mundzir)

Dan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Tentang mani, wadi dan madzi. Adapun mengenai mani, maka diwajibkan mandi karenanya. Sedangkan mengenai madzi dan wadi, maka hendaklah membasuh kemaluanmu dan berwudhulah seperti pada saat hendak melaksanakan shalat.” (Shahih; SHahih Sunan Abu Dawud -190- dan Al Baihaqqi 1:115)

2. Madzi

    Madzi adalah cairan bening sedikit kental, halus dan lengket yang keluar dari saluran kencing [1] yang keluar ketika bercumbu, sebelum berjima’[4] atau ketika nafsu syahwat mulai terangsang, tidak memancar/muncrat [3], dan tidak menyebabkan kendornya syahwat orang yang bersangkutan (tidak merasa lemas) [2]. Terkadang seseorang tidak merasakan akan proses keluarnya [1].

    Mengenai Madzi, berdasarkan Hadits Ummu Sulaim (lihat hadits tersebut di pemahasan tentang mani) Imam AnNawawi mengatakan,

    “Madzi hanyalah cairan lekat berwarna putih. Biasanya keluar disebabkan menkhayalkan hubungan intim atau terlintas keinginan berhubungan intim. Umumnya keluar tanpa dorongan syahwat, tidak memancar, dan tidak disertai rasa lemas setelah mengeluarkannya. Keluarnya madzi biasanya dialami kaum wanita dan kaum pria, namun dalam hal ini kaum wanita lebih sering mengalami.”[6]

    Madzi ini hukumnya najis menurut kesepakatan para ulama[1]. Bila ia mengenai badan, maka harus dibersihkan dan bila mengenai pakaian, maka cukup hanya dengan meyiramkan air pada bagian yang terkena [1].

    Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ia menceritakan,

    Aku ini seorang laki laki yang sering mengeluarkan madzi. Lalu aku suruh seseorang untuk menanyakan hal itu kepadaNabi, karena aku malu, sebab putrinya adalah istriku. Maka orang yang disuruh itupun bertanya dan beliau menjawab: Berwudhlulah dan cuci kemaluanmu!” (Mutafaqun ‘alayh, Muslim 1:247 no 303; Fathul Bari I:230 no 132)

    3. Mani

      Air mani pada wanita berwarna kuning dan encer sedangkan pada laki laki berwarna putih dan kental [1].

      Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam tentang seorang wanita yang bermimpi dalam tidur sebagaimana yang dialami kaum pria (mimpi basah). Rasulullah bersabda:

      “Jika ia melihat keluarnya mani maka wajib mandi”

      Dengan malu malu Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhu bertanya,

      Apakah seorang wanita juga mengalaminya (mimpi basah)?’

      Rasulullah menjawab:

      “Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang anak bisa mirip ibunya? Mani pria itu pekat berwarna putih sementara mani wanita encer berwarna kuning. Siapa saja diantara keduanya yang lebih awal atau lebih dominan maka kemiripan akan condong kepadanya.” (Shahih Muslim no.469)

      Dalam Syarah Shahih Muslim (III/222) berkaitan dengan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam : mani pria pekat berwarna putih, sedangkan mani wanita encer berwarna kuning, Imam Nawawi berkata:

      ‘Hadits ini merupakan kaidah yang sangat mulia dalam menjelaskan bentuk dan sifat mani. Itulah sifatnya dalam keadaan biasa dan normal. Alim ulama berkata, ‘Dalam keadaan sehat, mani lelaki itu berwarna putih pekat memancar sedikit demi sedikit saat keluar. Biasa keluar bila dibarengi dengan syahwat dan sangat nikmat saat keluarnya. Setelah keluar ia akan merasa lemas  dan mencium aroma seperti bau mayang kurma, yaitu seperti bau adonan tepung. Warna mani bisa berubah disebabkan beberapa hal diantaranya: saat sedang sakit, maninya akan berubah menjadi encer dan kuning, kantung testis melemah sehingga mani keluar tanpa dipacu oleh syahwat, karena terlalu sering bersenggama sehingga warna mani berubah merah seperti air perasan daging dan kadangkala yang keluar adalah darah. Beberapa karakteristik yang dijadikan patokan dalam mengenali mani adalah:

      – memancar akibat dorongan syahwat disertai rasa lemah setelahnya

      – Aromanya seperti bau mayang kurma sebagaimana yang telah dijelaskan

      – keluarnya dengan memancar sedikit demi sedikit.

      Salah satu dari ketiga karakteristik itu cukup untuk menentukan apakah yang keluar itu mani atau bukan. Jika tidak ditemukan salah satu dari ketiga karakter diatas, maka tidak boleh dihukumi sebagai mani karena dengan begitu hampir bisa dipastikan bahwa ia bukan mani. Ini berkaitan dengan mani pria. Adapu mani wanita, warnanya kuning dan encer. Kadangkala warnanya putih bila kekuatannya melebihi kadar rata rata. Ada dua karakteristik yang jadi patokan dalam menentukan mani wanita.

      -Aromanya seperti bau mani pria

      -Nikmat saat mengeluarkannya dan merasakan lemah setelah itu.[6]

      Mani itu Suci

      Mengenai mani, pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa mani adalah suci, dan disunnahkan mencucinya apabila basah dan cukup dengan mengeriknya bila telah kering [1].

      Dalil  mengenai sucinya mani ini adalah berdasarkan Hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam :

      Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya tentang mani yang mengenai pakaian. Maka beliau menjawab: Mani itu sama dengan dahak dan ludah dan cukup bagimu menghapusnya dengan secarik kain atau kertas.” (HR. Daruquthni, Baihaqi dan Thahawi)

      Keluarnya Mani Mewajibkan Mandi

      Perlu diketahui, sebagaimana laki laki, wanita pun kadangkala mengalami ihtilam (mimpi basah), sebagaimana hadits Ummu Sulaim diatas dan juga hadits berikut:

      Ummu salamah berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah wanita yang mendapatkan hal itu (bermimpi junub) juga harus mandi junub? Beliau Bersabda, “Ya, karena kaum wanita adalah saudara kandung kaum lelaki” Shahih Sunan Tirmidzi (I/35) (98) dan Shahih Sunan Abu Dawud (I/46) (216)

      Keluarnya mani yang disertai perasaan nikmat mewajibkan untuk mandi, baik itu dalam keadaan tidur maupun tidak [1-3]. Dalam Shahih Fiqih Wanita, Syaikh AL Utsaimin menuliskan dalil wajibnya mandi adalah sebagai berikut:

      1. Firman Allah sebagai berikut:

          وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ

          Dan jika kamu junub, maka mandilah.” Qs. Al Maidah [5]:6

          Junub adalah keluarnya mani dengan memancar disertai nikmat.

          2. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam:

            الماءِ الماءُمنْ انّما

            Air (mandi wajib) itu wajib karena air (sperma).” Shahih. HR Muslim (343) dan HR Abu Dawud (217)

            Maksud air pertama adalah air mandi dan maksudnya adalah mandi; sedangkan air kedua adalah air mani. Maksudnya adalah apabila keluar air mani maka wajib mandi [2].

            Berdasarkan tekstual hadits  ini maka wajib mandi karena keluarnya air mani, baik keluarnya dengan memancar, disertai rasa nikmat ataupun tidak, bahkan sekalipun tanpa (diiringi) syahwat dan dengan sebab apapun (Mahdzab Asy-Syafi’i –rahimahullah-). Sedangkan mayoritas ‘ahli ilmu’ mensyaratkan wajibnya mandi karena keluarnya mani secara memancar dan disertai rasa nikmat. Karena sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’aala:

            Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,” Qs Ath Thaariq [86]:5-6

            Oleh karena itu, jika air mani keluar tanpa rasa nikmat saat terjaga maka itu tidaklah mewajibkan mandi. Inilah pendapat yang benar. Jika ada yang menyanggah berupa pertanyaan, “Apa jawaban untuk hadits “Air (mandi wajib) itu wajib karena air.” Maka kita jawab, “Hadits ini diartikan atas sesuatu yang sudah dimaklumi, yaitu air mani yang keluar dengan rasa nikmat  dan menyebabkan tubuh terasa lemas. Sedangkan air mani yang keluarnya tidak demikian maka tidaklah menyebabkan tubuh terasa lemas [2]

            Perlu diketahui juga bahwa jika air mani keluar saat tidur maka wajib mandi, baik ada tanda tanda diatas maupun tidak. Sebab orang yang tidur terkadang tidak merasakannya. Ini sering terjadi apabila seseorang bangun dan menemukan bekas mani, padahal dia tidak merasa bermimpi. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Sulaim bahwa beliau pernah bertanya:

            Wahai Rasulullah, sesungguhnya  Allah tidak malu terhadap kebenaran (maka akupun tidak malu untuk bertanya): Apakah wanita wajib mandi bila bermimpi? Rasulullah menjawab: Ya, apabila ia melihat air mani setelah ia bangun.” (Muttafaqun ‘alaih)

            Maka, apabila seorang wanita bermimpi, tapi ia tidak melihat bekas dari keluarnya mani setelah ia bangun, maka ia tidak berkewajiban mandi karenanya. Para ulama telah sepakat akan hal ini, karena wanita itu tidak melihat adanya bekas air yang keluar, sedangkan itu merupakan syarat wajibnya mandi. Apabila ia terbangun dari tidur dan menemukan sesuatu yang basah dicelananyam tapi ia tidak mengetahui apakah yang keluar itu, maka yang lebih afdol baginya adalah mandi [1].

            Abdul ‘Azhim bin Badawi dalam kitabnya, Al Wajiz memperinci bahwa jika seseorang dalam keadaan sadar, maka keluarnya mani yang diwajibkan mandi adalah yang disertai syahwat. Adapun keluarnya mani saat keadaan sadar namun dikarenakan cuaca dingin dan sejenisnya, hal ini tidak diwajibkan untuk mandi. Hal ini berdasarkan Hadits hasan Shahih :

            Apabila kamu mengeluarkan air mani (dengan memancar), maka mandi janabatlah, namun manakala kamu tidak mengeluarkannya dengan memancar (tanpa syahwat) maka janganlah mandi janabat.” (Sanad nya hasan Shahih: Irwa-ul Ghalil I: 162, dan al-Fathur Rabbani I:274 no 82).

            Dalam Nailul Authar I : 275, Imam Asy-Syaukani menegaskan kata alhadzf kata dasar dari kata kerja hadzafa berarti : melempar, dan perbuatan ini mesti disertai karena dorongan syahwat. Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Hadits ini mengandung peringatan, bahwa air mani yang keluar bukan karena dorongan syahwat misalnya karena sakit atau cuaca sangat dingin tidak wajib untuk mandi janabat[3]. Hadits ini juga sebagai penguat, bahwa barangsiapa yang ihtilam (bermimpi basah) namun ia tidak mendapati air mani maka tidak harus baginya untuk mandi.

            Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya tentang seorang laki laki mendapati (kainnya) basah dan ia tidak ingat ihtilam (bermimpi)? Maka beliau menjawab. “Ia harus mandi” Kemudian ditanya lagi tentang seorang laki laki yang menyangka bahwa dirinya ihtilam namun ternyata ia tidak mendapati basah (pada kainnya). Maka Beliau menjawab, tidak ada kewajiban mandi atasnya.” (hadits shahih dalam shahih Sunan Abu Dawud (216), Tirmidzi I:74 no 113 ‘Aunul Ma’bud I:399 no 233)

            Mbulet??

            Mari kita coba buat kesimpulan: Wadi, merupakan najis (keluar dari saluran kencing pada wanita; dan ini tidak perlu dijelaskan pada pria) sehingga wajib dibersihkan. Madzi, merupakan najis yang (juga keluar dari saluran kencing pada wanita) yang wajib dibersihkan. Dan mani itu suci, (dan keluarnya dari tempat keluarnya bayi pada wanita). Ketiganya membatalkan wudhu, dan mani adakalanya wajib mandi, adakalanya tidak. Keluarnya mani itu bisa dalam waktu terjaga, bisa pula dalam keadaan tidur. Adapun dalam keadaan terjaga, maka keluarnya mani yang diwajibkan mandi adalah keluarnya mani yang disertai syahwat sedangkan yang disebabkan karena cuaca dingin dan sebagainya maka tidak diwajibkan baginya untuk mandi. Dan apabila dalam keadaan tidur ia merasa ia sedang ihtilam (mimpi basah) maka patokannya adalah apa bila ia melihat adanya air. Jika tidak ada, maka tidak wajib baginya untuk mandi. Wallahu ‘alam

            Disalin dari:

            [1]. FIqih Wanita Edisi Lengkap – Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah; BAB NAJIS dan BAB Hal Hal Yang Mewajibkan Mandi ; Pustaka Al kautsar

            [2]. Shahih fiqih Wanita – Syaikh Muhammad al Utsaimin; BAB Hal Hal Yang Mewajibkan Mandi; Pustaka Akbar Media

            [3]. Al Wajiz – Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalafi; BAB NAJIS dan BAB Hal Hal Yang Mewajibkan Mandi

            [4]. Asy Syari’ah BUNDEL Vol. 1 – 4; Seputar Hukum Islam: Najis, Mudah Dijumpai Jarang Dikenali

            [5]. 100 Dosa yang Diremehkan Wanita – ‘Abdul Lathif bin Hajis Al-Ghomidi; Bab Thoharoh: Tidak Mandi Junub Ketika Mendapatkan Air Mani Setelah Bermimpi

            [6]. Sebagaimana yang di nukil oleh Majalah Fatawa Vol. V/No.01 ‘Bagaimana Mani? bagaimana Madzi’; di Syarah Shahih Muslim Karangan Imam anNawawi III/213

            One thought on “Wadi, Madzi dan Mani

            1. saya ingin bertanya apakah saya harus ganti celana saya apabila terkena madzi? karena pada saat itu saya lagi di kantor jadi saya cukup membasuh kemaluan saya ! dan apakh shalat saya sah apabila saya tidak mengganti celana saya ? mohon di jawab

            Leave a Reply

            Fill in your details below or click an icon to log in:

            WordPress.com Logo

            You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

            Twitter picture

            You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

            Facebook photo

            You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

            Google+ photo

            You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

            Connecting to %s