Mumpung masih di Dunia (Nashihat Terbaik – Jika Masih Ada Kehidupan di dalam Hati)

Hasan al-Bashri, seorang imam besar para tabi’in melihat seorang kakek mengantar jenazah. Setelah pengubura itu, Hasan berkata kepadanya,

“Pak tua, aku bertanya dengan nama Tuhanmu. Apakah kamu mengira mayit ini ingin dikembalikan ke dunia, sehingga dia bisa berbekal dengan amal kebajikan serta memohon ampunan kepada Allah dari dosa dosa masa lalunya?”

Pak tua itu menjawab,

“Ya, benar.”

Hasan berkata,

“Mengapa kita semua tidak seperti mayit ini?”

Kemudian pak tua itu pergi sambil berucap,

“Benar benar nashihat yang berharga. Betapa berharganya nashihat ini jika didalam hati terdapat kehidupan. Namun orang orang yang kamu panggil tidaklah memiliki kehidupan.” [1]

Di AlQur’an yang mulia, Allah ta’ala berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ. لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan: Al Mu’minun : 99-100

Tidak ada nashihat yang paling baik selain mengingat kematian. Siapa yang menyangkal adanya kematian?? bahkan orang orang yang tidak beriman pun, untuk yang satu ini tahu pasti ia adalah keniscayaan. Namun, tidak ada seorangpun yang tahu kapan pastinya ia akan meninggal, pada umur berapa dia akan menemui ajalnya, dan dimana ia akan mengakhiri hidupnya didunia, di daratan ataukah lautan, atau dipesawat, dan tidak juga diketahui penyebab kematiannya.

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” Luqman:34

Kematian juga bukanlah akhir dari segalanya. Segala sesuatu yang dilakukan akan dimintai pertanggung jawabannya. Hidup itu bukan seperti facebook, yang bisa deactive kapan saja, lalu ‘cuci tangan’ dengan membuat account baru (hehehe). Tidak, semuanya, akan ditanyakan, sedetail detailnya.

Bagi orang orang yang merugi, mereka tertipu dunia dan kenikmatan kenikmatan semu didalamnya sehingga ia lupa dan lalai kepada Allah. Adapun orang yang beriman, dunia dan segala isinya adalah sarana sarana menyempurnakan ibadah kepada Allah subhanahu wata’aala, sehingga ia tidak membiarkan dirinya diperbudak oleh dunia.

Faedah Mengingat Kematian

Diantara faedah faedah mengingat kematian yaitu:

1. Melembutkan hatinya untuk segera memohon ampun atas dosa dosanya dan bertaubat kepada Allah, karena Allah akan selalu menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai tenggorokan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia. sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” At Tahrim: 8

2. Membangkitkan semangatnya untuk beribadah sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, dan itulah sebaik baik perbekalan

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْراً وَأَعْظَمَ أَجْراً

Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” Al Muzammil:20

3. Menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah (merasa cukup) terhadap dunia.

Ad Daqqaq rahimahullah berkata, :”Barangsiapa  banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!”

4. Meringankan beban musibah yang menimpa dirinya, seperti penyakit, kefakiran, kedzaliman, dan kesempitan hidup yang lainnya didunia. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Tidaklah seseorang mengingat mati pada waktu lapang hidupnya, kecuali akan menjadikan dia merasa sempit (umurnya terasa pendek dan semakin dekat ajalnya). Dan tidaklah (dia mengingat mati) pada waktu sempit hidupnya (karena sakit, fakit, dll) kecuali akan menjadikan dia merasa lapang (karena mengharap balasan dari Allah subhanahu wata’ala dengan sebab keikhlasan dan kesabaran ketika menghadapinya). HR Ibnu Hibban; Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Al-Irwa’ [no.682] bahwa sanadnya hasan)

Dasyatnya Sakaratul Maut

Tatkala waktunya telah tiba, maka dengan sebab yang Allah tentukan setiap orang pasti akan merasakan dasyat, ngeri dan sakit yang luar biasa dari sakaratul maut -kecuali hamba hamba yang Allah istimewakan-

وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” Qaaf : 19

Proses terjadinya sakaratul maut inipun Allah beritakan dalam beberapa ayat di AlQur’an, salah satunya di Surat Al Qiyamah 26 – 30 berikut:

كَلَّا إِذَا بَلَغَتْ التَّرَاقِيَ. وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ. وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ. وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ…

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau..” Al Qiyamah : 26 – 30

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah berita dari Allah tentang keadaan orang yang sekarat dan tentang apa yang dia rasakan berupa kengerian serta rasa sakit yang dasyat (Mudah mudahan Allah meneguhkan kita dengan ucapan yang teguh, yaitu kalimat tauhid di dunia dan akhirat). Allah ta’ala mengabarkan bahwasanya ruh akan dicabut dari jasadnya, hingga tatkala sampai di tenggorokannya, dia meminta tabib yang bisa mengobatinya. Siapa yang bisa meruqyah? Kemudian, keadaan yang dasyat dan ngeri tersebut disusul oleh keadaan yang lebih dasyat dan lebih ngeri berikutnya (kecuali yang dirahmati Allah). Kedua betisnya bertautan, lalau meninggal dunia…

Pantas saja, beberapa saudari kami yang menjadi imam shalat saat membaca surat ini mereka menangis.. Bagaimana tidak, jika isinya bercerita tentang dasyatnya sakaratul maut.

Sungguh, hidup didunia begitu pendek, sedangkan perjalanan kita masih sangat panjang. Tiba tiba SMU, tiba tiba kuliah, tiba tiba 22 tahun.. Waktu kita sangat sedikit, maka beramallah sebanyak banyaknya, dengan niat yang banyak pula [2]. Tulisan ini, sungguh ‘berat’…

[1]. Dinukil oleh Ali Shalih Al-Hazza dalam buku beliau: Sudah Muliakah Akhlaq Anda? dari Kitab Hasan Al Bashri.

[2]. Maksud dari perkataan ini adalah melakukan amalan amalan mubah yang diniatkan untuk ibadah, maka akan menghasilkan pahala. Seseorang bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku satu perbuatan yang menjadikan aku selalu beramal karena Allah!” Lalu dikatakan kepadanya, “Niatkanlah kebaikan, karena engkau akan selalu beramal walaupun sebenarnya engkau tidak melakukan apa apa, karena niat akan selalu beramal walaupun amal tersebut tidak ada.” [Kitabul Ikhlaash – Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah] Baca artikel tentang Muroja’ah Bab Niat

[3]. Majalah Asy- Syari’ah Vol. V/No.51/1430 H/2009; ‘Kehidupan Setelah Mati’

4 thoughts on “Mumpung masih di Dunia (Nashihat Terbaik – Jika Masih Ada Kehidupan di dalam Hati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s