Yang Gemar Menyembunyikan Amal amal Mereka

“Tujuh orang yang dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tak ada perlindungan selain lindungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah ‘Azza wa jalla, seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul lantaran cinta kepada-Nya dan berpisah juga lantaran cinta kepada-Nya, seorang laki laki yang dirayu seorang wanita yang memiliki kedudukan dan cantik rupawan, namun dia berkata, Sesungguhnya aku takut kepada Allah’ dan seseorang yang mengeluarkan shadaqah lalu dia menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahuiapa yang dinafkahkan tangan kanannya, dan seseorang yang menyebut nama Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim)

yang gemar menyembunyikan amal..

yang memiliki hubungan rahasia dengan Rabb-nya,

yang tidak terkenal dikalangan manusia,

yang selamat hatinya dari riya’

yang lepas dari pujian manusia

namun jika mereka bersumpah atas nama Allah, sumpah mereka akan dikabulkan

Mulianya mereka dihadapan Nya

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata bahwa orang yang gemar menyembunyikan amalnya ini terdiri ada dua:

Golongan pertama yaitu orang orang yang tidak dikenal, dan tidak ada pula jari yang menunjuk ke arah mereka, tidak menonjol diantara manusia karena alasan tertentu, tujuan mereka murni hanya untuk Allah, mereka tidaklah berhenti beramal karena alasan tertentu, juga tidak bergantung pada alasan tertentu kecuali karena Allah. Mereka tidak pula disebut sebut dikalangan manusia. Mereka tidak membatasi diri pada satu amal ibadah, namun mereka jadikan segala sesuatu apapun jenisnya sebagai ibadah sehingga mereka dapatkan bagian pahala bersama setiap ahli ibadah.

Jika mereka ditanya, siapakah guru mereka, maka mereka akan menjawab, “Guru kami adalah rasulullah..” jika ditanya jalan mereka, mereka akan menjawab, “jalan kami ialah ittiba..’” Jika ditanyakan tentang pakaian mereka, mereka menjawab, “Pakaian kami adalah taqwa”. Jika ditanya tentang tujuan dan apa yang mereka cari, mereka menjawab “Kami menginginkan Wajah Allah..” Jejak jejak mereka tidak dapat dilacak orang lain, dan orang yang berada dibelakang mereka tidak tahu kemana mereka berjalan. Orang orang sepeninggal mereka hanya melihat seberkas sinar di kejauhan dan hanya dapat bertanya tanya kemana mereka pergi. Mereka ibarat simpanan yang tersembunyi.

Merekalah orang orang yang termasuk dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam,

“Berapa banyak orang yang rambutnya kusut masai berdebu, ditolaj didepan pintu serta tidak layak diperdulikan namun sekiranya ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah mengabulkan sumpahnya…” (HR Muslim).

Dan sabda rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam dalam hadits lain yaitu ketika ada seorang laki laki lewat didekat beliau, dan beliau bertanya kepada para shahabat, “Apa komentar kalian tentang orang itu?” Mereka menjawab, “Orang itu adalah orang yang layak.. Jika dia meminta syafaat, maka dia pantas diberi syafaat. Jika melamar, dia layak untuk dinikahkan. Jika dia berkata kata, maka perkataannya layak untuk didengar.” Kemudian, ada laki laki lain yang melintas di hadapan beliau. Beliaupun bertanya lagi, “Apa komentar kalian tentang orang ini?” Mereka menjawab. “Dia adalah orang yang pantas, namun jika meminta syafaat dia tidak layak diberi syafaat. Jika melamar, dia tidak layak dinikahkan dan jika dia berkata maka perkataannya tidak layak didengar.” Lalu nabi shalallahu ‘alayhi wasallam pun bersabda, “Orang semacam ini lebih baik dari seisi dunia..” HR. Bukhari

Demikianlah kemuliaan mereka dihadapan Rabb-Nya.

Adapun golongan kedua adalah orang orang yang terlihat seperti orang yang baru menapak jalan kepada Allah dihadapan manusia, padahal sebenarnya mereka sudah berada dipuncak kedudukan. Mereka berbicara dengan orang lain tentang permulaan perjalanan, kehendak dan perilaku, padahal kedudukan mereka jauh lebih tinggi dari itu. Mereka menutup nutupi keadaan mereka yang mulia sehingga tidak terlihat dihadapan manusia. Mereka bergaul bersama manusia menurut  tingkatan akal mereka, tidak berbicara di luar kemampuan pemahaman orang lain sehingga orang yang diajak berbicara beranggapan bahwa mereka sama seperti yang lain padahal mereka tidaklah sepadan dengannya. Orang orang ini menunjukkan bahwa diri mereka masih berada di kedudukan taubat dan muhasabah, padahal mereka sudah berada pada tahap mahabbah dan ma’rifat.

Kisah Uwais al Qarni adalah kisah yang sempurna menggambarkan salah satu dari kedua golongan diatas

Siapakah orang yang apabila dia bersumpah dengan nama Allah, Allah akan mengabulkannya? Dialah Uwais ibn Amir ibn Jarir al-Qarni. Ibn Marstad menuturkan, “Namanya Uwais bin Unais, Ada pla yang mengatakan, namanya Uwais ibn al-Hulaits.”

Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menyukai orang orang yang diciptakan-Nya, yang terpilih, yang suka menyembunyikan amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada amir (penguasa) untuk menghadap, maka mereka tidak diizinkan. Jika melamar wanita cantik, maka mereka tidak dinikahkan. Jika mereka hadir, maka mereka tidak dicari. Jika mereka muncul, maka kedatangan mereka tidak disambut. Jika mereka sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati tidak dipersaksikan.”

Para shahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami yang seperti itu?”

Beliau menjawab, “Dia bernama Uwais ALQarni. Matanya kebiruan, mudah bergaul, bahunya lebar, perawakannya sedang sedang, kulitnya sawo matang, memelihara jenggot hingga ke dada, selalu mengarahkan pandangan ke arah sujudnya, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, banyak membaca al qur’an, menangisi diri sendiri, mempunyai dua kain lusuh dan dia tidak perduli terhadap kainnya itu, berselimut dengan kain dari wol dan sorban dari wol, tidak dikenal diantara penduduk bumi, namun terkenal diantara penghuni langit, yang sekiranya bersumpah atas nama Allah, tentu Dia akan mengabulkanny apa yang dia ucapkan dalam sumpahnya. Ketahuilah, dibawah bahu sebelahkanannya ada warna putih yang cemerlang. Ketahuilah, pada hari kiamat nanti akan dikatakan kepada hamba hamba, ‘Masuklah kalian kedalam surga.’ Sementara dikatakan kepada Uwais, ‘Berhentilah dan mintalah syafaat’. Allah pun memberinya syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudha. Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya, maka mintalah agar dia memintakan ampunan bagi kalian berdua, iscaya allah akan memberikan ampunan bagi kalian berdua.”

Abu hurairah menuturkan, Umar dan Ali pun terus mencarinya selama sepuluh tahun. Namun pencarian merea tak membawa hasil Pada tahun terakhir sebelum Umar meninggal, Umar berdiri diatas bukit Qubais, lalu berseru dengan suara lantang, “Wahai orang orang Yaman yang menunaikan haji, adakah diantara kalian yang bernama Uwais?”

Ada seorang lelaki tua denga jenggot panjang berdiri lalu berkata, Kami tidak mengenal irang yang bernama Uwais. Akan tetap anak saudaraku ada yang biasa dipanggil Uwais. Namanya hampir tidak dikenal, hartanya sedikit dan keadaannya sangat hina sekiranya kami harus membawanya kehadapanmu. Dia biasa mengembala unta milik kami dan hina ditengah kami.”

Umar bersikap seakan akan tidak mengkehendaki orang itu. Dia bertanya, “Apakah anak saudaramu itu terkena penyakit?”

“Ya” jawabnya
“Dimana dia berada..?”
“Dia berada di Arafah”

Umar dan Ali pun bergegas menuju Arafah, hingga mereka berdua menemukan seseirang yang sedang berdiri melaksanakan shalat didekat sebatang pohon. Disekitarnya terlihat sekumpulan unta. Umar dan Ali menambatkan keledai mereka, kemudian menghampiri orang itu dan mengucapkan salam.

Orang itu mempercepat shalatnya dan menjawab salam.
“Siapa engkau ini?” tanya Umar dan Ali.
“Aku adalah penggembala untu dan orang yang diupah orang orang itu.” jawabnya
“kami tidak bertanya tentang penggembalaan dan upahan. Siapa namamu?”
“Aku adalah Abdullah (hamba Allah),” jawabnya.
“kami sudah tahu, bahwa semua penghuni langit dan bumi adalah hamba Allah. Siapa nama yang diberikan ibumu kepadamu?”
“Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?” tanya orang iu.

“Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam memberitahukan kepada kami tentang seseorang yang bernama Uwais al Qarni. Kami sudah tahu ciri cirinya, yaitu matanya kebiru biruan dan rambutnya pirang. Beliau juga memberitahukan kepada kami, bahwa bahu sebelah kanannyaada warna putih cemerlang. Karena itu perlihatkanlah kepada kami bahumu. Kalau memang ada tanda itu, maka engkaulah yang beliau maksud.”

Ketika orang itu memperlihatkan bahunya  sebelah kanan, terlihatlah tanda putih yang cemerlang. Seketika itu pula Umar dan Ali memeluknya dan berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah Uwais al-Qarni. Mohonkanlah ampunan bagi kamu, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.”

“Apa yang istimewa dengan istighfarku atau siapapun dari anak Adam, sementara didaratan dan dilautan ada sekian banyak orang orang mukmi laki laki dan perempuan, orang orang muslim laki laki dan perempuan. Rupanya Allah telah  memberikan tanda kepada kalian berdua tentang urusanku. Lalu, siapa sebenarnya kalian berdua?”

Ali menjawab, “Ini adalah Umar Amirul mukminin, sedangkan aku adalah Ali ibn Abi Thalib.”

Seketika itu juga, Uwais berdiri tegak dan mengucapkan , “Assalamu’alaykum wahai amirul mukminin wa rahmatullah wa barokaatuh begitu pula engkau wahai Ali bin Abi Thalib. Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu untuk umat ini.”

Umar dan Ali menukas, “Dan kepadamu juga. Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu.”

Selanjutnya Umar berkata kepada Uwais, “Tetaplah di tempatmu semoga Allah merahmatimu, hingga aku masuk mekah dan memberimu nafkah dari pemberianku dan kelebihan kainku. Tempat ini merupakan tempat yang dijanjikan antara diriku dan dirimu.”

Uwais berkata, “Tempat yang dijajikan antara diriku dan dirimu? Padahal aku tidak akan melihatmu lagi setelah hari ini. Beritahukan kepadaku apa yang harus aku perbuat terhadap nafkah dan kain itu? Apakah engkau tidak melihat jubah dan kain wol ini? Kapan engkau tahu aku akan membakarnya? Apakah engkau tidak tahu sandalku yang sudah kujahit ini? Kapan aku akan membuatnya usang Sesungguhnya aku sudah mendapatkan empat dirham dari pekerjaanku menggembala ini. Kapan kalian melihat aku meminta tambahan? Wahai amirul mukmini, sesungguhnya di hadapanku dan dihadapanmu ada beban berat yang tidak dapat dibawa kecuali oleh orang yang menganggapnya ringan. Karena itu buatlah ia ringan. Semoga Allah merahmatimu.” [Shifatu shafwah jilid 4]

Riwayat lain mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Akan datang kepada kalian orang yang bernama Uwais ibn Amir bersama rombongan dari penduduk Yaman, dari Murad kemudian dari Qiran. Diantara mereka ada yang terkena penyakit kusta lalu sembuh kecuali di satu tempat sebesar kepingan dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan mengabulkan sumpahnya. Jika engkau mampu agar dia memintakan ampunan bagimu, maka lakukanlah.”

*di ambil dari buku ‘Al – Akhfiya; Orang orang yang gemar menyembunyikan amal shalih mereka’ – Walid bin Sa’id Bahakam. 2010. Daun Publishing. Jakarta

7 thoughts on “Yang Gemar Menyembunyikan Amal amal Mereka

  1. Pingback: Yang Gemar Menyembunyikan Amal amal Mereka | almahad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s