Kisah Kisah Mereka Yang Gemar Menyembunyikan Amal (Bag. 2)

Bismillah…

Ini lanjutan yang kemarin yang berkisah tentang orang orang yang telah menggapai ma’rifatullah menjaga agar urusan mereka tidak diketahui oleh siapapun sebagai bentuk kehati hatian agar mereka tidak terjatuh dalam perbuatan ujub, sifat sombong, dan tindakan meremehkan orang lain.

Inilah sedikit potret amal orang orang pilihan di lapangan jihad, ilmu, ibadah, dan amal amal kebajikan

Keikhlasan memang perkara yang sangat berat dan sangat mahal harganya.

Lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya*

Dalam Lapangan Jihad dan Peperangan

Ketika maslamah ibn Abdul Malik bersama pasukannya mengepung sebuah benteng Romawi, hanya ada satu jalan masuk ke dalamnya. Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama, Maslamah berseru kepada pasukannya, “Barangsiapa berani menerobos pintu, seandainya ia mati maka dia akan mendapatkan surga in syaa Allah. Kalau dia selamat, maka tanah yang ada dibalik pintu itu pantas untuknya. Lalu, dia harus membuka pintu agar pasukan Islam dapat masuk kedalam benteng sebagai pemenang.”

Seorang prajurit dengan wajah ditutupi oleh kain berdiri dan maju seraya berkata, “Aku akan melakukannya wahai panglima”

Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya tanya, “Siapakah orang yang mengenakan tutup muka itu? Siapakah yang membuka pintu benteng?”

Tak seorangpun berdiri mengaku. Pada hari ketiga, Maslamah pun berkata, “Aku bersumpah, agar orang yang menutup muka itu menemui aku, kapanpun waktunya, siang atau malam.”

Maka pada tengah malam, ada seseorang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya, “Engkau kah yang mengenakan tutup muka?”

Orang itu menjawab, “Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya.”

“Apa itu?” tanya Maslamah

“Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apapun, dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai seseorang yang memiliki keistimewaan.” kata orang itu

“Aku  terima,” kata Maslamah

Orang itu lalu berkata, “Memang, akulah orang yang mengenakan tutup muka itu.”

Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Dan diantara doa Maslamah yaitu

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang mengenakan tutup muka ini”

Dan kepundak orang orang semacam inilah Allah ‘azza wa jalla melimpahkan barakahNya.. (Hasyim Muhammad al-Minhaj fii al Mafahim al Islamiyyah wa ad Da’wah, jilid 2 Halaman 76)

Dalam Hal Ilmu dan Memberikan Manfaat

Dialah Imam al-Mawardi, yang pada masa hidupnya tak satupun karyanya muncul. Ia hanya mengumpulkan karya karyanya tersebut dalam satu tempat. Ketika ia merasa ajalnya sudah dekat, ia berpesan kepada seseorang yang dipercaya olehnya,

“Semua buku yang ada di tempat fulan adalah tulisanku. Jika aku sudah menyambut ajalku dan dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika ak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa hal ini menunjukkan bahhwa tidak satupun karyaku yang diterima oleh-Nya. Jika sudah begitu, maka ambil seluruh buku karanganku itu, dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Namun jika aku membentangkan tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat meninggal, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima. Sebab aku telah berhasil mendapatkan niat ikhlas yang aku harapkan..”

Sepeninggal Imam al Mawardi, orang kepercayaannya itu pun menuturkan, “setelah ajalnya mendekat, aku meletakkan tanganku diatas tangannya, yang ternyata ia membentangkan telapak tangannya dan tidak menggenggam tanganku. Maka, akupun tahu bahwa itu tanda diterimanya amalnya. Sehingga setelah itu aku pun memperlihatkan buku buku hasil karyanya. Abdul Hamid Al-Balali, Waahat al Imaan, jilid I hal 35

Untuk menulis buku buku itu, Imam al-Mawardi sudah menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur. Namun, setelah semua selesai, dia masih khawatir kalau kalau amalannya itu akan sia sia begitu saja karena riya’

Lihat juga imam syafi’i yang berkata,

“Aku ingin sekiranya semua manusia mempelajari ilmu ini dan mereka tidak menisbatkan sedikitpun kepadaku dan tidak pula memujiku”

Imam syafi’i beranggapan bahwa pujian hanya akan mengurangi pahala dan mengurangi sifat orang orang yang menyembunyikan amal amalnya.

Dalam Shalat Sunnah

Hammad ibn Ja’far ibn Zaid menuturkan bahwa ayahnya menyampaikan kepadanya, “Kami berangkat ke Perang Kabil. Shilah ibn Usyaim juga bergabung dalam pasukan ini. Ketika singgah di al-Atamah, aku berata, ‘Aku benar benar akan memperhatikan apa yang dilakukannya, agar aku dapat meilhat ibadah yang dilakukannya seperti cerita orang orang tentang dirinya.’ Shilah mendirikan shalat lalu berbaring sambil menunggu orang orang terlelap. Ketika semua mata sudah terpejam, dia bangkit dan menuju ke sebuah semak semak tak jauh dari tempatnya. Aku membuntuti dari belakang. Dia berwudhu dan mendirikan shalat.

Tak lama kemudian, tiba tiba seekor singa muncul mendekatinya. Aku pun memanjat pohon. Kulihat Shilah sama sekali tidak menolehkan kepala. Dia tidak memperdulikan keberadaan singa itu. Dia sujud. Aku bergumam dalam hati, ‘Tak lama lagi tentu dia akan dimangsa.’ Setelah mengucapkan salam, Shilah berkata, “Wahai binatang buas, carilah rezeki di tempat lain.’ Singa itupun lalu berbalik menuju gunung.

Pagi harinya Shilah duduk dan memuji Allah. Aku tidak mendengar dzikir darinya kecuali perkataan Maa Syaa Allah. Dia lalu berdoa,’Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar engkau melindungi aku dari neraka. .’

Dia lalu kembali lagi ke tempatnya semula. Dia lalu berbuat seolah olah tetap berada diatas tikarnya seperti sedia kala, sedang aku sendiri merasa letih mengikutinya. [Shifatu shafwah Jilid 3 hal. 143]

Muhammad ibn Ziyad berkata, “Aku pernah melihat  Abu Umamah menemui seseorang didalam masjid yang sedang sujud sambil menangis dan berdoa. lalu abu umamah berkata kepada orang itu, “Jika engkau melakukan hal semacam itu, maka lakukanlah didalam rumahmu.” [Nuzhat al-Fudhala’ Jilid 2 hal 774]

Dalam Hal Puasa

Ma’ruf berkata,

“Aku selalu berpuasa. Jika aku diundang untuk makan, maka aku pun makan dan tidak kukatakan bahwa aku sedang berpuasa.” [Shifat ash-Shafwah, jilid 2 hal. 211]

Al Fallas menuturkan bahwa ia mendengar ibnu Abi Adi berkata, “Daud ibn Abi Hindun berpuasa selama empat puluh tahun, sementara keluarganya tidak mengetahuinya. Profesinya sebagai tukang jagal. Dia biasa membawa  makan siangnya lalu menshadaqahkannya di tengah perjalanan.” [Nuhat al-Fudhala Jilid 2 hal 547]

Dalam Hal Menyembunyikan Tangisan

Syaikh Abdurrozaq suatu hari pernah menyampaikan mudhaharah tentang iman kepada hari kiamat. Beliau dengan sangat menggebu gebu menyampaikan dasyadnya hari kiamat sehingga timbul rasa ‘khauf’ yang sangat amat dalam hati para mahasiswa. Namun tiba tiba saja beliau terdiam, bahkan terpaku membisu. Para mahasiswa terkejut, ada apa gerangan…?

Beliau terus membisu hingga sekitar beberapa menit lamanya. Saat itu mata beliau berkaca kaca, dan hati pun bertanya tanya, “Ada apa gerangan? mengapa syaikh menahan tangisnya? bukankah jika beliau menangis di hadapan kami maka akan semakin menambah haru suasana dan menambah hidup wejangan wejangan beliau?”

Belakangan baru paham, bahwa keikhlasan memang perkara yang sangat berat lagi sangat mahal harganya. Dan yang lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya. Dan memang merupakan kenyataan, bisa jadi seseorang ditimpa PENYAKIT UJUB dihadapan orang banyak. Bisa jadi.

Dikesempatan lain, beliau mengisi pengajian tentang berbakti kepada kedua orang tua. Saat itu beliau menjelaskan bahwa adanya orang tua di sebuah rumah merupakan hiasan rumah tersebut. Keberadaan orang tua menjadikan kehidupan di dalam sebuah rumah menjadi indah, dan ketiadaan mereka membuat kehidupan di rumah terasa gersang. Maka tiba tiba suara beliau berubah menjadi seperti orang yang hendak menangis. Beliau pun terdiam beberapa menit. Kemudian, beliau memberi isyarat seakan akan beliau hendak minum. Lantas tatkala beliau memegang gelas untuk minum, tangan beliau gemetar dan hampir hampir air yang ada di gelas itu tertumpah.

Ada pula sebuah kisah salah seorang salaf, Ayyub Asy-Syukhtiyani ketika menyampaikan sebuah nashihat, tiba tiba dia pun menangis karena terharu. Lantas, untuk menutupinya beliau mengatakan “Sesungguhnya influensa itu berat..”

Dalam Hal Terkabulnya Doa

Pada masa khalifah Muawiyah terjadi kemarau panjang dan paceklik. Tanaman meranggas, hewan ternak mati, dan manusia kehausan. Abdullah ibn al-Mubarak menuturkan, aku berada di Mekkah ketika orang orang ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi hujan tidak juga turun. Disampingku ada seorang laki laki berkulit hita yang kurus. Kudengar ia berdoa

‘Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdoa kepada Mu, namun Engkau tidak memenuhinya. Sesungguhnya aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.’

Demi Allah, tak berapa lama kemudian, hujan pun turun kepada kami dan orang itu beranjak pergi. Aku mengikutinya hingga dia masuk ke sebuah rumah milik seorang penjahit. Keesokan paginya, aku mendatangi rumah itu sambil membawa beberapa dinar. Didepan rumah ada laki laki. Aku bertanya kepadanya, ‘Aku ingin menemui pemilik rumah ini’

‘Akulah orang yang engkau maksudkan’, jawabnya

Aku pun berkata, ‘Aku ingin sekali membeli budak dari dirimu.’

‘Aku mempunyai empat belas budak. Aku akan mengeluarkan mereka semua agar engkau dapat melihat mereka.’ katanya

Pemilik rumah itupun mengeluarkan keempat belas budaknya. Namun tak seorang pun diantara mereka yang aku inginkan. Aku bertanya, ‘Masih adakah lagi?’

Dia menjawab, ‘Aku mempunyai seorang lagi budak yang sedang sakit.’ Dia lalu mengeluarkan budak yang dimaksud, seorang budak kulit hitam.

Juallah budak ini kepadaku, pintaku.

‘Dia menjadi milikmu, wahai Abu Abdirrahman,’ katanya

Aku lantas menyerahkan empat belas dinar keadanya dan membawa budak itu. Ditengah perjalanan  ia bertanya kepadaku, ‘Wahai tuanku, apa yang akan engkau perbuat kepadaku sementara aku sedang sakit?

Aku menjawab, ‘Aku tahu apa yang engkau lakukan kemarin sore.’

Budak itu menyandarkan diri ke dinding seraya berkata, ‘Ya Allah, kalau engkau membuatku terkenal maka cabutlah nyawaku’

Maka seketika itu pula budak itu jatuh dan meninggal dunia dan penduduk Mekah mengiringi jenazahnya [shifatu shafwah jilid 2 hal 177]

Dalam Hal Menyembunyikan Musibah

Syafiq al-Balkhi menuturkan, “Abdul Aziz ibn Abu Ruwad sudah buta semenjak dua puluh tahun, namun keluarga dan anaknya tidak mengetahui keadaannya itu. Suati hari sang anak memperhatikan keadaannya lalu berkata, ‘Wahai ayah, apakah engkau buta?’

‘Benar wahai anakkku.’ jawabnya, ‘Ini merupakan keridhaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan ayahmu buta semenjak 20 tahun yang lalu” [Nuzhat al-Fudhala’ jilid 2 halaman 713]

Dalam Hal Thawadhu’ dan Merendahkan diri

Syaikh Abdurrazaq pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menyampaikan nashihat kepada para mahasiswa. Maka Syaikh Abdurrazaq memulai moderasinya dengan kalimat, ‘Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini  kita akan mendengarkan mudhaharah yang akan disampaikan oleh ‘Al ‘Allamah’ Muhammad bin shalih..”

Tiba tiba saja Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang, “Uskut..!!!” (diaam..!!). Syaik Abdurrazaq pun tersentak mendengarnya. Beberapa saat kemudian, barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin tidak ridha jika digelari ‘Al ‘Allamah atau orang yang sangat alim.

Seorang meminta izin kepada Syaikh Abdurrazaq untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikih Doa dan Dzikir) kedalam bahasa indonesia. Beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr’, tanpa embel embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula dengan buku buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair, semua tanpa embel embel gelar tersebut. Padahal, sudah hampir 20 tahun beliau menyandang gelar profesor.

Bandingkanlah fenomena ini dengan kenyataan saat ini di kampus kampus. Terkadang permasalahan gelar menjadi hal yang teramat penting. Tidak jarang seorang dosen yang dibutuhkan tanda tangannya tidak mau membubuhkan tanda tangan karena  penulisan gelarnya salah. Atau gelarnya bukan lagi doktor namun telah naik menjadi profesor.. Allahul musta’aan..

Dalam Hal Sedekah

Kisah ini sudah ma’ruf di telinga kita. Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar pada malam buta dan kemudian Thalhah memergokinya. Umar terus berjalan dan memasuki sebuah rumah, lalu masuk lagi ke rumah yang lain. Ketika pagi tiba, Thalhah datang ke rumah yang dimasuki Umar. Ternyata rumah itu adalah rumah dari seorang wanita tua dan buta yang sudah tidak mampu lagi berdiri. Thalhah bertanya, ‘Apa yang dilakukan orang yang mendatangimu semalam?’ Wanita tua itu menjawab, “dia sudah menyantuni aku semenjak sekian lama. Dia datang ke sini untuk memberikan apapun yang aku butuhkan sehingga aku tidak lagi menderita.”

Semoga yang sedikit ini dapat membawa manfaat bagi yang lain..

Nyalin dari

–  ‘Al – Akhfiya; Orang orang yang gemar menyembunyikan amal shalih mereka’ – Walid bin Sa’id Bahakam. 2010. Daun Publishing. Jakarta

– * Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja – Abu Abdil Muhsin Firanda. 2010. Pustaka Cahaya Sunnah

2 thoughts on “Kisah Kisah Mereka Yang Gemar Menyembunyikan Amal (Bag. 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s