Al-Qur’an dan Sains (1) : Bolehkah Menafsirkan Al-Qur’an dengan Berbagai Teori Sains Modern?

Bismillah

Alhamdulillah, tekhnologi dan ilmu pengetahuan semakin maju pesat luar biasa. Tidak jarang sebagian orang mengaitkannya dengan Al-Qur’an, entah dengan perhitungan perhitungan matematis, teori teori biologi, kedokteran, ilmu ilmu geologi, ilmu astronomi, ilmu lingkungan, gempa, bencana alam, dan lain lainnya. Kadang ayat ayat AlQur’an dihubung2kan dengan fakta fakta ilmiyyah; tapi beberapa diantaranya ternyata memiliki penafsiran yang .. tidak semestinya, ditafsirkan tidak sesuai konteks (ada, dan benar benar ada). Sebenarnya bolehkah kita menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan?

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin –rahimahullah- ketika ditanya, “Bolehkah menafsirkan Al-Qur’an dengan berbagai teori ilmiah sains modern?”

beliau menjawab :

Menafsirkan al-Qur’an dengan berbagai teori ilmiyyah tersebut berbahaya. Karena kalau kita menafsirkannya dengan teori tersebut lalu datang teori yang lain yang bertentangan dengannya, maka akan berkonsekuensi bahwa Al-Qur’an ternyata tidak benar dalam pandangan musuh musuh Islam, meskipun bagi umat Islam sendiri, mereka akan mengatakan bahwa yang salah adalah yang menafsirkan Al-Qur’an tersebut, namun musuh musuh Islam selalu mencari cari kesempatan, oleh karena itu saya sangat memperingatkan agar tidak cepat cepat (terburu buru) menafsirkan Al-Qur’an dengan berbagai teori tersebut sampai fakta membuktikannya, dan nantinya kalau sudah terbukti secara fakta dan realita, maka kita tidak perlu untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menetapkannya karena Al-Qur’an itu diturunkan untuk urusan ibadah, akhlaq dan agar di tadabburi maknanya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’aala :

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Qs. Shod [38] : 29)

Dan Al-Qur’an bukanlah diturunkan untuk urusan ilmu semacam ini yang bisa diketahui oleh manusia dengan penelitian dan ilmu mereka.

Dan mungkin saja ini akan menjadi sesuatu yang amat berbahaya kalau memaksakan al-Qur’an untuk itu. Saya ambil saja sebuah contoh, tentang firman Allah subhanahu wa ta’aala :

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulthon). .” Qs. ArRahmaan [55] : 33)

Tatkala orang sudah bisa sampai ke bulan*, maka sebagian orang menafsirkan ayat ini dan menempatkannya pada kejadian tersebut. Mereka berkata bahwa yang dimaksud dengan sulthon pada ayat ini adalah ilmu pengetahuan dan dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki itulah mereka bisa menembus penjuru langit dan bumi serta melewati gaya gravitasi bumi. Ini adalah penafsiran yang salah, tidak boleh al-Qur’an di tafsirkan seperti itu. Karena jika engkau mengaku menafsirkan Al-Qur’an dengan sebuah makna tertentu maka berarti engkau bersaksi bahwa itulah yang dikehendaki oleh Allah ta’ala, dan ini adalah sebuah persaksian yang agung, dimana engkau akan dimintai pertanggung jawaban tentangnya.

Barangsiapa yang mentadabburi ayat tersebut, akan menemukan bahwa tafsir tersebut baatil, karena ayat ini dibawakan untuk menerangkan keadaan manusia dan kesudahan urusan mereka. Bacalah surat Ar Rahman, akan engkau temukan bahwa ayat tersebut disebutkan setelah firman Allah :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ.   وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ   فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

 “Semua yang ada di bumi itu akan binasa .Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Qs. ArRahman [55] : 26-28)

Sekarang kita bertanya kepada mereka, apakah semua yang tersebut dalam ayat ini telah berhasil menembus penjuru langit? Jawabnya tidak, padahal Allah telah berfirman : “jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi”. Pertanyaan kedua, Apakah Alloh mengirim kepada mereka nyala api dan cairan tembaga sebagaimana ayat setelahnya :

“Kepada kamu, (jin dan manusia) “dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya)”  (Qs. Ar Rahman [55] : 35)

Jawabannya pun tidak

Kalau begitu, berarti tidak benar kalau ayat ini ditafsirkan dengan tafsir mereka. Kesimpulannya bahwa ilmu pengetahuan yang telah mereka capai itu dengan hasil percobaan dan penelitian mereka, namun kalau menyelewengkan al-Qur’an agar sesuai dengan semisal itu, maka hal ini tidak diperbolehkan. (Kitabul ‘ilmi -Syaikh al utsaimin; dinukil dari ‘Matahari mengelilingi Bumi’ – Ahmad Sabiq bin  Abdul Latif Abu Yusuf . Pustaka Al Furqon)

*Mengenai pernah atau tidaknya manusia sampai ke Bulan dan bagaimana kita sebaiknya menyikapinya,, mudah2an Allah memudahkan saya untuk menuangkannya ke bagian 2 tulisan singkat ini.. in syaa Allah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s