Yang Terusir Dari Telaga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

Al Haudh; Telaga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam

Al haudh (الحوض) secara bahasa adalah berkumpul. Dikatakan حاض الماء يحوضه artinya adalah mengumpulkan air dan dipakai untuk membahasakan (menamai) tempat berkumpulnya air. Adapun secara istilah syar’i, adalah tempat berkumpulnya air yang mengalir dari sungai Al-Kautsar pada hari kiamat untuk Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

As Suyuthi berkata, “penyebutan tentang haudh ini diriwayatkan oleh lima puluh lebih shahabat, diantaranya para khalifah Ar-Rasyiddin yang empat, para ahli hadits dikalangan shahabat yang banyak meriwayatkan hadits nabi serta selain mereka ridhwanullahi ‘alayhim” Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengimani hadits ini

Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta selainnya, dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahuanhu ia berkata : “Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

حوضي مسيرة شهر ماؤه أبيض من اللّبن وريحه أطيب من المسك وكيزانه كنجوم السماء نت شرب منها فلا يظمأ أبدا

“Haudhku (panjangnya) selama satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit, siapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Bukhari (6093), Ahmad (6227)

Meyakini adanya haudh merupakan bagian dari keimanan dengan hari Akhir dan apa saja yang terjadi setelahnya. Diantaranya adalah Hisab, pemberian lembaran amal, timbangan amal (Al Mawaaziin -Jamak dari Mizaan-), As Shiraat, Syafaat hingga surga dan neraka. Pembahasan tentang ini seru sekali dan bisa ditemukan di kitab kitab aqidah.

Yang Terusir dari Telaga Haudh

Ada diantara umat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang terusir dari telaga ini.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tertunduk sesaat, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan berkata, “Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku satu surah.” Lalu beliau membaca,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al kautsar.” (Qs. Al Kautsar). Hingga beliau menamatkannya.

Lalu beliau bertanya, “Tahukah kamu apakah Al Kautsar itu?” Para shahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”

Beliau bersabda, “Itu adalah sungai yang diberikan oleh Allah kepadaku didalam surga, terdapat kebaikan yang sangat banyak didalamnya. Pada hari kiamat nanti umatku akan mendatanginya. Gelas yang tersedia padanya sejumlah bintang di langit. lalu ada seseorang yang dijauhkan darinya, maka aku berkata, “Sesungguhnya ia termasuk umatku..” Namun dikatakan, “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah ia lakukan sepeninggalmu.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim (892), Tirmidzi (2465)

Imam Qurtubi berkata, ada dua penafsiran tentang siapakah yang terusir dari telaga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam ini:

1. Shahabat yang murtad (keluar) dari Agama Allah ketika Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam meninggal, dan

2. Orang orang yang mengadakan pada Agama Allah sesuatu yang tidak diridhai Allah; yaitu menambah nambahi syari’at, mengganti ajaran agama,

Selain itu, hadits ini juga menunjukkan ketidak tahuan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sepeninggal beliau, bahwa beliau sudah berada di alam lain, alam barzakh  dan bukan seperti keyakinan sebagian kaum sufi, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam hadir ketika mereka mendendangkan shalawat shalawat yang tidak sesuai sunnah. Allahul musta’aan..

Lain pula dengan syi’ah. Mereka menggunakan hadits terusirnya sebagian ummat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sebagai dalil bahwa para shahabat yang mereka benci, (Abu Bakr, Umar, Utsman, Muawiyyah, istri istri beliau dan para pembesar shahabar yang lain -radhiyallahu ‘anhum-) telah kaafir atau juga karena berkhianat terhadap ‘wasiat’ beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas kekhalifahan ‘Aliy radlillaahu ‘anhu sepeninggal beliau. Alhamdulillah, jawaban atas tuduhan ini sudah dibahas secara ilmiyyah di salah satu blog di sini.

****Faedah Dauroh Ushulu Sunnah -Ustadz Abu Karimah Asykari –hafidzahullahu ta’ala- Ahad 22 Mei 2011di Ma’had Ta’zimu Sunnah Samarinda; disempurnakan dengan keterangan tambahan di Terjemah Lum’atu I’tiqod – Ibn Qudamah al Maqdisi dan Terjemah Al Irsyad ilaa Shohih Al I’tiqod – Syaikh Shalih Fauzan****

2 thoughts on “Yang Terusir Dari Telaga Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s