Wanita dan Perumpamaannya Sebagai Kaca

Bismillah…

Dalam sebuah hadits, Rasulullah –shalallahu ‘alayhi wa sallam– mewasiatkan kaum lelaki untuk berlaku lembut kepada wanita, yang beliau umpamakan sebagai kaca kaca,  (((atau ada yg menerjemahkannya dengan kristal, atau ada yang menerjemahkan dengan gelas gelas kaca))).

Indah sekali ungkapan tersebut. Mereka adalah ibu kita, bibi kita, saudara perempuan kita, para istri, hingga akhowat saudara kita seiman..

اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ

“Lembutlah kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”

(HR Al-Bukhari V/2294 no 5856, Muslim IV/1811 no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro VI/135 no 10326 dan ini adalah lafal An-Nasa’i)

القوارير (:Qowaariiro) ~kaca kaca~ yaitu jamak dari القورة (:Qouroh) ~kaca~ ;

Tersebut juga di dalam AlQur’an surat Al Insan ayat 15 dan 16, sebagai wadah minum para penghuni surga :

وَيُطَافُ عَلَيْهِم بِآنِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا. 

Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca,

قَوَارِيرَ مِن فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيراً

(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya

Perkataan Para Ulama Mengenai Hadits Diatas

(((Perkataan para ulama ini SELURUHnya saya copy – paste dari sini)))

Berkata Ibnu Hajar, “Al-Qowarir plural (kata jamak) dari singular (kata tunggal) Qoruroh yang artinya adalah kaca…berkata Romahurmuzi, “Para wanita dikinayahkan dengan kaca karena lembutnya mereka dan lemahnya mereka yang tidak mampu untuk bergerak gesit. Para wanita disamakan dengan kaca karena kelembutan, kehalusan, dan kelemahan tubuhnya”…yang lain berkata bahwasanya para wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho dan tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran) sebagaimana dengan kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan” (Fathul Bari X/545)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin, “…Sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya dekat hingga di sisimu” (Asy-Syarhul Mumti’ XII/385)

Berkata Al-Qodhi ‘Iyadh, “Para wanita disamakan dengan kaca karena lemahnya hati mereka” ( Masyariqol Anwaar II/177). Demikianlah…Allah telah menciptakan wanita dengan penuh kelembutan dan kelemahan. Hati mereka lemah sehingga sangat perasa. Mudah tersinggung…namun senang dipuji. Mudah berburuk sangka…mudah cemburu…mudah menangis…demikianlah wanita.

Sikap para wanita begitu cepat berubah terhadap sikap suami mereka…terkadang hari ini ridho dengan sikap suaminya…besok hari marah dan tidak ridho…, apalagi jika sang suami melakukan kesalahan….!!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطٌ

“Seandainya engkau berbuat baik pada salah seorang istri-istrimu sepanjang umurmu kemudian dia melihat suatu (yang tidak disukainya) darimu maka ia akan berkata, “Aku sama sekali tidak pernah kebaikan darimu”(HR Al-Bukhari I/19 no 29 dan Muslim II/626 no 907)

Berkata Ibnu Hajar, “Hadits ini menunjukan akan dianjurkannya untuk berbuat mujamalah (berbasa-basi) untuk menarik hati para wanita dan melembutkan hati mereka. Hadits ini juga menunjukan siasat dalam menghadapi wanita yaitu dengan memaafkan mereka serta sabar dalam menghadapi kebengkokan mereka. Dan barangsiapa yang berharap selamatnya para wanita dari kebengkokan maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari mereka, padahal seorang pria pasti membutuhkan seorang wanita yang ia merasa tentram bersamanya dan menjalani hidup bersamanya. Seakan-akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna menikmati (bersenang-senang) dengan seorang wanita kecuali dengan bersabar menghadapinya” (Fathul Bari IX/254)

Berkata Imam An-Nawawi, “Hadits ini menunjukan sikap berlemah lembut terhadap para wanita, bersikap baik kepada mereka, sabar menghadapi bengkoknya akhlak mereka, sabar menghadapi lemahnya akal mereka, dan dibencinya menceraikan mereka tanpa ada sebab, serta janganlah berharap lurusnya seorang wanita” (Al-Minhaj X/57)

Oleh karena itu sikap basa-basi dihadapan wanita sangatlah diperlukan untuk menundukannya, bahkan hal ini disunnahkan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

أََلآ إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَأَنَّكَ إِنْ تُرِدْ إِقَامَتَهَا تَكْسِرْهَا فَدَارِهَا تَعِشْ بِهَا

“Ketahuilah bahwasanya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan jika engkau ingin untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, oleh karenya barbasa-basilah niscaya engkau akan bisa menjalani hidup dengannya” (HR Al-Hakim di Al-Mustadrok IV/192 no 7333, Ibnu Hibban (Al-Ihsan IX/485) no 4178, Ad-Darimi II/198 no 2221 dari hadits Samuroh bin Jundaub. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat Shahihul Jami’ no 1944))

(((perkataan ulama diatas seluruhnya saya copy-paste dari sini)))

Begitulah kaca (baca :wanita) rapuh, halus, gampang putus asa, mudah sekali hancur berkeping2; kalau sudah berkeping keping, pecahannya dapat melukai sekitarnya dan tak mungkin mengembalikan kaca itu seperti sedia kala. Walaupun berhasil di satukan dengan lem kaca pasti akan meninggalkan bekas..

As’asluloohal ikhlaas..

_______________________________________________________________

Related Post :

Memanfaatkan Masa Masa ‘Sensitif’ Pada Wanita

8 thoughts on “Wanita dan Perumpamaannya Sebagai Kaca

  1. QUOTE

    Begitulah kaca (baca :wanita) rapuh, halus, gampang putus asa, mudah sekali hancur berkeping2; kalau sudah berkeping keping, pecahannya dapat melukai sekitarnya dan tak mungkin mengembalikan kaca itu seperti sedia kala. Walaupun berhasil di satukan dengan lem kaca pasti akan meninggalkan bekas..

    –> masyaalloh … permisalan yang bagus sekali. jazakillahu khayran, sahabatku… : )

    take my hand n we’ll walk side by side. no worries, i’m here for u, inshaa’ Allah ^^

  2. Beideweh ya de…kok kata-kata dalam analogi “kaca yang sudah pecah meskipun dilem pasti akan berbekas” kok mirip banget sama yang lagi ana tulis yah tentang suami yang suka bersikap keras dan kasar gitu ke istri, bahkan ketika istrinya sedang dalam keadaan mengandung. Terinspirasi dari kata-kata yang intinya ==> kalo kita menyakiti hati seseorang, yah ibarat kita sudah menancapkan sebuah paku di dinding. Ketika paku itu sudah berhasil dicabut sekalipun, tentu akan masih meninggalkan bekas berupa lubang. Bahkan ketika sudah diplester pun, tetap saja masih berbekas tidak lagi seperti sedia kala.

    Heheh, it means…kok seide yah sama ana? : D

  3. Pingback: Al-Mufrodat wal ma’nahu (kata dan artinya) :) | Live, Learn, Love, and Gratitude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s