Memilih Pasangan Shalih/Shalihah

Nyalin buku

Prolog :

Seorang pria baru saja menjadi seorang bapak. Dia datang kepada seorang ulama untuk bertanya tentang pendidikan putranya yang baru lahir.
Dia bertanya,

Wahai syaikh, putraku baru saja lahir. Aku ingin engkau menjelaskan padaku tahap-tahap untuk mendidiknya agar menjadi anak yang shalih dari sedini mungkin…

Ulama tersebut menjawab,

Sedini mungkin? Kalau begitu sungguh Engkau telah terlambat…“

Kenapa sang bapak dibilang sudah terlambat? Karena untuk membuat anak menjadi shalih tidaklah dimulai sejak dia dilahirkan, tetapi dimulai sejak dia masih di dalam kandungan ibunya. Bahkan lebih dari itu, pendidikan anak yang shalihi dimulai ketika sang bapak mulai mencari calon istri yang shalihah, sosok yang akan menjadi ibu bagi putra-putrinya kelak.

(sumber)

————————————————-

Merupakan kewajiban seorang pria untuk memilih isteri dengan baik sehingga dia benar benar mendapatkan istri yang shalihah dan memiliki agama yang baik, karena dia adalah calon ibu dari anak anaknya. Darinya seorang anak akan tumbuh lagi mencontoh dan darinya pula seorang anak akan mengambil air susu sekaligus prilaku. Allah berfirman :

وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

“..Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu…” Qs. Al baqarah : 221

Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wa sallam– bersabda :

فاظفر بذات الدين تربتْ يدك

maka pilihlah seorang wanita yang memiliki agama (yang baik), maka engkau akan beruntung..” HR. Bukhari (no.5090) dan Muslim (no.1466) dari Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- secara marfu

Selain dia seorang wanita yang shalihah dan berakhlaq baik, seyogyanya pula dia adalah seorang wanita yang berasal dari keluarga yang baik dan shalih, ini adalah sesuatu yang lebih sempurna dan lebih utama. Tidakkah anda perhatikan bahwa kaum Maryam berkata kepadanya :

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيّاً

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali kali bukanlah seorang penjahat dan ibumu sekali kali bukanlah seorang penzina.” Qs. Maryam :; 28

Maknanya adalah wahai saudara perempuan dari seorang yang shalih, (Harun) sesungguhnya bapakmu adalah orang yang mulia lagi shalih, tidak diketahui pernah melakukan sebuah kejelekan dan tidak pernah melakukan perbuatan keji. Demikian pula ibumu, dia adalah orang yang shalihah, sama sekali bukan seorang penzina, maka bagaimana bisa engkau membawa anak ini, dan darimana dia datang kepadamu?!!

Terkadang seorang anak menyerupai salah satu pamannya dari ibu atau dari bapak atau kakeknya, hal ini sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam di dalam salah satu sabdanya :

لعلّ ابنك هاذا نزعه عرق

Barangkali anakmu ini menyerupai leluhurnya.” HR. Bukhari (no. 6847) dan Muslim (no. 1500)

Seorang ibu yang shalihah mengajarkan AlQur’an kepada anaknya, mengajarkan sunnah nabi, perangai yang baik dan mengajarkan kepada mereka yang halal dan yang haram, mengisahkan kisah kisah para Nabi dan orang orang yang shalih.

Jika ibu menyertai anak anak berkunjung kepada keluarganya yang shalih, maka akhlaq mereka akan bertambah baik dan ilmu mereka meningkat.

Jika ibu membawa mereka berkunjung kepada suatu kaum yang baik, mulia dan shalih dari kalangan orang orang yang sepertinya, maka sopan-santun anak anak akan bertambah baik dan akhlaq mereka akan semakin luhur. Karena itu ika anda ingin memiliki anak anak yang shalih, maka carilah istri yang shalihah. Ika anda mengingknan seorang anak yang memiliki akhlaq yang baik, maka carilah seorang istri yang berakhlaq baik pula. Dan hanya kepada Allah-lah kita semua memohon pertolongan.

Semua itu tidak berarti bahwa seorang pria dilarang mempertimbangkan kecantikan, keindahan dan keelokan yang dimiliki calon istrinya, selama dia adalah seorang wanita dengan agama yang baik. Dan hal ini pada umumnya memiliki pengaruh terhadap anak keturunan. Biasanya anak anak mempunyai ketampanan dan kecantikan seperti yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.

Tidakkan anda pernah mengetahui bahwa Fathimah datang kepada ‘Aisyah alannya bagaikan jalan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam dan perilakunya pun bagaikan perilaku Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam! Dan sifatnya bagaikan sifat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam!!

Dan Yusuf -radhiyallahu ‘anhu– yang diberikan setengah ketampanan dari seluruh ketampanan manusia adalah cucu Sarah yang termasuk wanita paling cantik!! Lihat di Hadits Shahih Muslim no. 2371

Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteriku melahirkan seorang anak laki laki yang berkulit hitam?!” HR. Bukhari (no. 6847) dan Muslim (no. 1500)

Sepertinya orang tersebut mencurigai isterinya dan dia hendak mengingkari anak itu sebagai anaknya, karena ia tidak mirip dengan bapaknya dan tidak pula dengan ibunya.

Fakta ini menunjukkan bahwa biasanya seorang anak menyerupai ayah atau ibunya, namun terkadang juga bisa menyerupai paman atau kakeknya sebagaimana telah dijelaskan dimuka.

Disamping mempertimbangkan agama dan kecantikan, mempertimbangkan harta juga tidak dilarang dalam memilih calon istri, akrena harta tersebut biasanya akan kembali kepada anak anak -dengan izin Allah-. Anak anakmu memiliki sebuah rumah adalah lebih baik daripada mereka terlunta lunta, tercecer dijalanan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya setiap hari.

Juga tidak mengapa jika kedudukan pun menjadi bahan pertimbangan pada calon ibu, karena itu Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Seorang wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah agamanya, niscaya kamu akan beruntung” HR. Bukhari (no.5090) dan Muslim (no.1466) dari Hadits Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- secara marfu

Seandainya anda mendapatkan seorang wanita Quraisy yang shalihah, maka sesungguhnya mereka adalah wanita wanita terbaik yang pernah menunggang unta. Biasanya mereka memiliki kasih sayang kepada anak anak dan tanggung jawab kepada para suami yang tidak dimiliki oleh wanita lainnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam :

Sebaik baik wanita yang pernah menunggang unta adalah wanita Quraisy yang shalihah. Dia adalah wanita yang paling besar kasih sayangnya kepada anak diwaktu kecil dan paling bertanggung jawab kepada suaminya.” HR. Bukhari (no. 5082) dan Muslim (no.2527)

Demikian pula seorang wanita seyogyanya memilih calon ayah bagi anak anaknya dari pria yang memiliki sifat sifat yang telah diterangkan dimuka. Ia adalah seorang pria yang memiliki agama yang baik, akhlaq mulia, dan memiliki harta* sehingga tidak menelantarkan hak isteri dan anak anaknya. Hendaknya suami adalah seorang pria yang memiliki ilmu dan keturunan atau kedudukan yang baik, sehingga dia bisa mengajari anak anaknya. Biasanya kebaikan anak kembali kepada kebaikan sang ayah, bahkan kebaikan itu mengalir kepada mereka juga cucu cucu mereka.

Tidakkah anda membaca firman Allah subhanahu wa ta’aala :

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim dikota itu dan dibawahnya terdapat harta benda simpanan bagi mereka berdua sedangkan ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabb-mu mengkhendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabb-mu..” Qs. Al Kahfi : 82

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

“Perumpamaan seorang teman yang shalih dan teman yang jelek adalah bagaikan seorang pedagang minyak wangi dan seorang pandai besi. Jika ia seorang pedagang minyak wangi, maka dia akan memberikan minyak itu kepadamu atau engkau yang membelinya atau engkau mendapatkan wangi harum darinya. Sedangkan jika ia seorang pandai besi, maka ia akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” HR Bukhari (no.5534) dan Muslim (2628)

Isteri dan suami adalah orang yang paling dekat dengan Anda, apakah Anda rela ika ia bagaikan seorang pandai besi yang selalu membakar pakaian Anda?

Apakah anda rela jika bau tidak sedap Anda rasakan datang dari isteri anda sendiri?

Demikian pula seorang wanita, apakah rela jika suaminya adalah seorang pria bagaikan panda besi, bahkan, demi Allah lebih buruk dari itu, karena kemudharatan yang didapatkannya di akhirat akan besar. Keburukannya selalu menyelimuti dirinya, baik pada agama dan dunianya. Maka seorang wanita harus selalu berusaha keras untuk mendapatkan pria yang shalih. Demikian pula seorang pria harus berusaha dengan gigih untuk mendapatkan istri yang shalihah. Biarkanlah orang orang yang buruk akhlaqnya bersama yang semisal dengannya, sebagian dari mereka lebih patut dengan sebagian yang lain, sebagaimana orang orang yang beriman lebih patut untuk selalu bersama orang orang yang beriman pula. Allah berfirman :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلَئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)..” Qs. An Nuur : 32

———————————————————————————–

*yang dimaksud dengan harta adalah kadar yang dibutuhkan untuk tegaknya sebuah keluarga. Dalam hal ini rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Cukuplah seseorang mendapatkan dosa besar karena tidak menafkahi orang yang wajib ia nafkahi” (HR Muslim no 996)

Di dalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda :

wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu memberi nafkah (lahir dan batin), maka menikahlah. Dan siapa saja yang belum mampu melakukannya maka berpuasalah, karena puasa itu sebuah perisai baginya.” HR. Bukhari (no. 5065) dan Muslim (no. 1400).

Sebagian ulama menafsirkan makna al baa’ah dengan kemampuan dalam memenuhi segala macam pembiayaan pernikahan dan rumah tangga. Adapula yang menafsirkan dengan kemampuan dalam berjima’

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam memberikan alasan kepada Fathimah binti Qais agar tidak menikah degan Mu’awiyahm dengan alasan yang beliau ungkapkan dengan sabdanya :

Adapun Muawiyyah ia seorang laki laki yang faqir tidak memiliki harta..” HR Muslim (no. 1480)

Ini sama sekali tidak bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’aala :

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui..” Qs. An Nur : 32

Ayat tersebut tidak berarti bahwa Anda berhak untuk menikahkan seorang wanita yang ada dibawah tanggungan anda dengan seorang laki laki yang sama sekali tidak memiliki makanan yang akan diberikan kepadanya. Akan tetapi kefaqiran adalah sesuatu yang nisbi. Hal ini tidak berarti pula bahwa seorang suami adalah harus orang kaya raya, cukuplah baginya sesuatu yang dapat menegakkan keluarganya.

Mungkin pula makna ayat adalah bantulah orang orang yang tidak beristri atau bersuami dan laki laki shalih diantara hamba sahaya kalian untuk melakukan pernikahan. Berikanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah kepada kalian. Jika mereka ada didalam kefaqiran, niscaya Allah akan memberikan kecukupan bagi mereka. Wallahu a’lam.

——————————————————————————————————

100% Nyalin buku dan co-past dari :

– Musthofa Al ‘Adawi, “Anakku! Sudah tepatkah pendidikannya?” Bab memilih Istri Shalihah; Pustaka Ibn Katsir : terjemahan dari kitab : فقه تربية الأبناء و طائفة من نصائح الأطبّاء

Ayah yang Terlambat dalam Mendidik

7 thoughts on “Memilih Pasangan Shalih/Shalihah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s