Beruntungnya Dekat Dengan Orang Shalih dan Berilmu

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

Anas bin Malik adalah pelayan Rasulullah yang dibawa kepada beliau shalallahu ‘alayhi wasallam oleh ibunya, Ummu Sulaim ketika berumur 10 tahun. Sejak pertemuan pertamanya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas langsung jadi orang terdekatnya. Ia tak sekadar jadi pembantu setia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih dari itu, ia seakan menjadi “asisten pribadi” beliau. Sebagai asisten pribadi, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan Anas dalam masalah-masalah tertentu yang tak diketahui sahabat lainnya.

Tentang beliau Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkomentar : “Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)” dan beliau urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits.

Beliau juga adalah sahabat yang beruntung berkat doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdoa, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.” Berbekal doa nabawi tadi, terkumpullah padanya beberapa keistimewaan: usia yang panjang, anak yang banyak, harta yang melimpah, dan ilmu yang luas.

Konon, usianya mencapai 103 tahun. Anak keturunannya mencapai ratusan orang. Bahkan, menurut penuturan salah seorang putrinya yang bernama Umainah, sejak ayahnya berketurunan sampai setibanya Hajjaj bin Yusuf di Bashrah, sudah 129 orang dari anak cucunya yang dimakamkan. Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buah-buahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Di samping itu, kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.

Tidaklah keutamaan keutamaan tersebut diperoleh kalau beliau tidak dekat dengan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

Ahli Nahwu Sibawaih dan Budak Perempuannya

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki hendak menemui Sibawaih bermaksud ingin menandinginya dalam ilmu Nahwu. Ternyata Sibawaih sedang tidak berada di rumah. Lalu budak perempuan Sibawaih keluar menemui lelaki tersebut. Kemudian ia berkata kepada budak itu, “Di mana tuanmu, wahai budak?” Budak perempuan itu pun menjawab:
فاء إلى الفيء فإن فاء الفيء فاء

“(Tuan) pergi ke suatu tempat (berteduh), jika bayangan sudah pergi (maksudnya jika matahari berada di atas kepala -pen) maka dia (akan) kembali.”

Mendengar tuturan seperti itu, lelaki itu pun berkata:
والله إن كانت هذه الجارية فماذا يكون سيدها

“Demi Allah, jika budaknya saja begini, bagaimana pula dengan tuannya?!”
Lalu dia pun kembali (tidak jadi menantang -pen)

Lihatlah bagaimana sang budak merangkai kalimat hanya dengan menggunakan satu sumber kata saja, yaitu الفيء (bagi bashriyyun dan yang sependapat dengan mereka) atau فاء (bagi kufiyyun dan yang sependapat dengan mereka).

Bagaimana seorang budak bisa sehebat itu kalau bukan karena kedekatannya dengan Sibawaih si Ahli nahwu?

Einstein dan Supirnya

(Einstein memang bukan termasuk orang shalih.. tapi dalam hal kecerdasan siapa yang tidak mengakuinya? semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran)

Albert Einstein pernah mengalami peristiwa yang hampir hampir menghancurkan reputasinya. Karena saat itu dia sakit keras tapi harus presentasi teorinya yang baru. Dalam perjalanan kepalanya pusing dan tenggorokannya tersumbat, akibat radang dan kelelahan. Hal itu ia sampaikan kepada sopirnya dan sopirnya berkata : “Saya akan menyelamatkan anda dari kesulitan ini..” Lebih lanjut, sopir itu berkata : “Wahai Professor, saya telah menghadiri ceramah anda seputar relativitas ini leih dari dua puluh kali sampai saya menghafalnya dan bisa menyampaikannya. Dan di kota ini tidak ada seorang pun yang mengenali anda..”

Einstein pun menyetujuinya dan berkata, “Saya yang akan menyetir mobil ketika memasuki kota ini agar orang orang mengira engkau adalah aku..” Sopir yang tidak menamatkan pendidikan menengah itu berhasil menyampaikan ceramahnya dengan baik. Sehingga karena saking gembiranya, Einstein yang sedang duduk di barisan pertama merasakan kelelahannya hilang sama sekali.

Lalu terjadilah hal yang tidak diharapkan. Muncul pertanyaan yang mustahil dijawab oleh sang sopir. Degub jantung Einstein sangat keras. Sopirnya menjawab pertanyaan yang bisa dijawabnya, hingga akhirnya ia berkata, “saya tidak pernah membayangkan bahwa saya tidak mampu menyampaikan makna ini kepada Anda sekalian. Saya mengira bahwa diri saya telah menyampaikan makna ini dengan baik.  Sehingga saya yakin bahwa sopir pribadi saya akan mampu menjawab pertanyaan ini hanya dengan  mendengarkan ceramah saya..”

Saat itu bergemalah decak kagum dari segenap penjuru yang memenuhi aula. Dan pandangan tidak percaya diri dari para hadirin pun ditujukan kepada Einstein. Senyum sang sopir semakin mengembang dan dari atas mimbar ia mengisyaratkan kepada Einstein untuk naik ke panggung seraya berkata, “Apakah kalian tidak percaya pada ucapan saya? kalau begitu, pengalaman adalah sebaik baik bukti. Silahkan wahai profesor andam enjawab pertanyaan ini. Bahkan silahkan anda menjawab pertanyaan pertanyaan yang lain. Akan tetapi saya berharap kepada hadirin untuk tidak banyak mengajukan pertanyaan karena sekarang ia sedang sakit..” Maka aula itu riuh setiapkali Einstein menjawab pertanyaan pertanyaan. Orang orang pun keluar dalam keadaan bingung karena adanya dua einstein.

Maka, tidaklah sopir Einstein bisa menjadi seperti itu tanpa dekat dengan Einstein yang asli : )

——————————————————————————————-

Beruntunglah orang orang yang bisa mengambil manfaat langsung dari manusia manusia shalih dan berilmu walau hanya menjadi ‘tukang ojek’nya ustadz apalagi sampai menjadi asistennya syaikh..

“…Jika ia seorang pedagang minyak wangi, maka dia akan memberikan minyak itu kepadamu atau engkau yang membelinya atau engkau mendapatkan wangi harum darinya…”HR Bukhari (no.5534) dan Muslim (2628)

sumber2

1. Meneladani Ibunda Anas bin Malik

2. Anas bin Malik (Wafat 93 H)

3. Suatu Faidah Dari Seorang Budak Ulama Nahwu Sibawaih

4. Einstein dan Sopirnya – (dapat kisah menarik ini dari buku Zero to Hero hal 62)

2 thoughts on “Beruntungnya Dekat Dengan Orang Shalih dan Berilmu

  1. Subhaanallah…Kisah yang indah,banyak ibrah yang dapat dipetik di dalamnya bagi hamba yang ingin memperbaiki diri…Baarokallahu fiyk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s