Ketika Wanita Bekerja Di Luar Rumah

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Musuh musuh Islam telah berusaha dengan berbagai macam cara dan sarana yang tak terhitung demi merusak perilaku wanita muslimah agar mereka melepaskan diri dari agama, akhlaq dan keiffahannya.

Ketika seorang wanita pergi bekerja, sebagian besar biasanya akan mengenakan pakaian pakaian yang menarik menggunakan model dan tata rambut yang beraneka macam serta hiasan hiasan lainnya yang akan selalu berubah dan berganti. Inilah yang mendorongnya menggunakan gaji setiap bulan untuk bisa tampil cantik dan menarik. Padahal perlu diketahui bahwa pakaian dan aneka macam hiasan tersebut diimport dari negara negara asing yang mendukung dan memberikan sokongan finansial kepada gerakan zionis untuk menghancurkan kaum muslimin. Terjebaklah kaum muslimin dalam kerugian materil, akhlaq dan sikap hidup yang meniru niru gaya orang kafir. Sungguh benar sabda rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam :

“Tidak ada fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum laki laki daripada wanita.” Mutafaqun ‘alayh

Akibat Wanita Bekerja di Luar Rumah

Bekerjanya wanita diluar rumah akan mengakibatkan dampak yang buruk, tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi keluarga dan masyarakat. Diantara dampak buruk tersebut adalah:

  1. Wanita yang bekerja di luar rumah akan bercampur baur dengan laki laki pada setiap harinya, baik di tempat tempat pertemuan maupun di lingkungan kerjanya. Dengan bekerjanya wanita diluar rumah, dia akan dihadapkan dengan beban beban yang berat, kepayahan, bahkan bahaya yang mungkin terjadi karena berdesak desakan ketika bekerja. Kemudian hilanglah darinya sebagian sifat kewanitaannya. Pudarlah keindahan yang menghiasinya dan lenyaplah rasa malunya. Padahal itu semua termasuk perkara yang paling penting yang akan mencerminkan seorang wanita dalam pandangan laki laki.
  2. Apabila seorang wanita bekerja di luar rumah, maka pekerjaannya akan menyibukkan dirinya dari kewajiban kewajiban mengurus rumah dan dari tanggung jawabnya mendidik anak anak. Sampai sampai seorang suami terkadang menyesalkan sikap penyia nyiaan istrinya terhadap kewajiban kewajiban dirumah. Maka keadaan ini memaksa dirinya untuk menceraikan istrinya dan berpisah darinya atau dia menikah lagi dengan wanita lain.
  3. Terkadang pekerjaan seorang wanita diluar rumah menjadi sebab hancurnya rumah tangga dan tercerai berainya anak anaknya. Hal ini terjadi akibat adanya hubungan (gelap) dengan laki laki lain ditempat kerjanya. maka ketahuilah bahwa itu semua dikarenakan godaan setan yang ia berjalan di tubuh anak Adam bersama aliran darah. Terlebih lagi apabila wanita tersebut keluar rumah dalam keadaan berhias.
  4. Sesungguhnya dengan bekerjanya wanita di luar rumah akan menyebabkan terpisahnya ia dari anak anaknya. Sehingga mereka tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dan tidak mendapatkan pendidikan darinya. Bahkan terkadang perkara ini menjadi sebab penyimpangan dan penyelewengan anak anak hingga mendorong mereka melakukan tindakan kejahatan. Dampak dari itu semua adalah sebagaimana telah tampak jelas di masyarakat.
  5. Diantara dampak negatif lainnya bahwa tugas tugas/pekerjaan pekerjaan di luar rumah bisa saja membawa akibat kematian bagi si anak. Buktinya adalah si karyawati yang sudah tiba saatnya masuk kerja padahal anaknya sedang sakit ini. Anaknya memanggil manggil, “Ibu.. ibu.. aku sama siapa di rumah?” Namun sang ibu terdesak untuk mengerjakan tugasnya sehingga meninggalkan anaknya yang berkata lirih, “Ibu..ibu..”Ketika kembali ke rumah, ibu itu menemukan anaknya telah membujur kaku meninggal dunia. Ia pun sedih dan menangisi anaknya serta menyesali perbuatannya saat nasi telah menjadi bubur. Di dalam hatinya ia berkata, “Apa guna pekerjaan ini? Bahkan apa guna harta yang menyebabkan anakku mati? sedang anak adalah milik yang paling berharga?”

Pengangguran Akibat Wanita Bekerja

  1. Di negara barat kaum wanita telah memasuki seluruh lapangan pekerjaan. Sehingga angka pengangguran di negara negara itu meningkat secara cepat. Hal ini menyebabkan para pakar ekonom kesulitan menemukan solusi mengurangi jumlah pengangguran atau paling tidak menghentikan angka pertumbuhannya. Sebab utama fenomena pengangguran pada negara negara itu adalah masuknya kaum wanita ke seluruh lapangan pekerjaan tanpa terkecuali. Mereka ikut serta dengan kalangan pria di lembaga lembaga pemerintahan, perusahaan perusahaan, pabrik pabrik industri dan profesi profesi lainnya.
  2. Krisis ekonomi yang melanda negara negara barat menyebabkan mereka harus menonaktifkan sejumlah besar karyawan dan pekerja. Dan yang paling pertama di non-aktifkan adalah kalangan pria karena para pemilik perusahaan, pabrik, toko dan sebagainya akan lebih memilih untuk memakai tenaga kerja wanita daripada tenaga kerja  pria. Hal ini disebabkan karena wanita memiliki daya tarik, keluesan dan daya pikat untuk menarik pelanggan dan klien.
  3. Dan sangat disayangkan, negara negara Islam juga mengikuti jejak negara negara barat tersebut. Sehingga kaum wanita pun masuk ke lembaga lembaga pemerintahan, bahkan badan badan pengacara. Banyak juga  yang masuk ke perusahaan perusahaan dan yayasan yayasan khusus atau umum, bahkan juga laboratorium-laboratorium penelitian. Hal ini melahirkan fenomena pengangguran di kalangan pria sebagai pihak yang memikul tanggung jawab memberikan nafkah keluarga. Rusaklah akhlaq dan bertebaranlah perbuatan perbuatan keji di tempat  tempaat terjadinya ikhtilath diantara wanita dan pria. Dan memburuklah hubungan antara suami dan istrinya akibat ikhtilat ini.

Syarat Syarat Wanita Bekerja di Luar Rumah

Sesungguhnya Islam yang memuliakan wanita dengan sebaik baiknya membolehkannya untuk melakukan pekerjaan mulia di dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Hal ini agar ia menjadi unsur penting yang berkiprah aktif dalam membangun keluarga, umat, dan negara muslim. Dengan demikian Islam tidak secara mutlak melarang wanita untuk bekerja. Akan tetapi Islam memberikan ketentuan jenis pekerjaan yang sesuai dengan tabiat yang telah Allah ‘azza wa jalla jadikan untuknya. Dan Islam telah menetapkan syarat syarat yang akan menjaga kehormatannya. Syarat syarat itu adalah :

  1. Hendaknya di dalam kerjanya tidak terjadi ikhtilath antara pria dan wanita. karena ikhtilat ini akan membahayakan pria dan wanita itu sendiri.
  2. Hendaknya pekerjaan tersebut disertai persetujuan suami, ayah, saudara laki laki, atau orang yang bertanggung jawab  terhadap urusannya.
  3. Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabiat/sifatnya dan tidak sampai membuatnya begitu kelelahan dan kesulitan.endaknya pekerjaan tersebut tidak menyita sebagian besar waktunya. Sehingga ia dapat menyisihkan waktu untuk menunaikan kewajiban kewajiban rumah tangga, melayani suami dan memperhatikan pendidikan anak anak.
  4. Hendaknya ia tidak berhias ketika keluar rumah. Juga tidak menggunakan bedak wajah dan parfum. Akan tetapi ia mengenakan jilbab hitam yang pangjang dan lebar. Dan ia menutup wajah saat berhadapan dengan laki laki non mahrom.
  5. Hendaknya seorang wanita bekerja di medan medan yang akan memberi manfaat bagi masyarakat seperti :
  • – lapangan pendidikan dan pengajaran, agar anak anak perempuan dapat diajar leh guru wanita dan tidak oleh guru pria.
  • – lapangan pengobatan dan keperawatan, agar kaum wanita diobati atau dirawat juga oleh wanita, tidak oleh pria.
  • – pembuatan busana wanita, agar para wanitalah yang membuatkan busana untuk kalangan mereka. Sehingga mereka tidak perlu pergi kepada pembuat busana dari kalangan pria.

(disalin dari Majalah Akhwat vol. 8/1432/2010)

TAMBAHAN :

…Dibalik Keinginan Sebagian Wanita Eropa,

رُّبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِينَ

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim” Qs. Al Hijr [15] : 2

Inilah Keinginan Seorang wanita berkebangsaan Perancis

Kisah dibawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya -seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani-. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun dipagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anak di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”

Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya.”

“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?” Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.
“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan.” Jawab dokter muslim tersebut.

Dengan penuh keheranan dan ketercengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”

Dia menjawab: “Ya.”

Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”
“Ya.” jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.

“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri.” Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter perempuan, lalu tinggal dirumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah. Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

Seorang wanita berkebangsaan Inggris yang angan-angannya telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lewat

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebarluaskan pada tahun 1901: “Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier diberbagai instansi, karena meniti karir diluar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian !?

Sungguh sebuah aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur baur dengan laki-laki. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk  menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya.”

Keinginan Terpendam Seorang wanita berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja  akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini  yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan.” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman)”.

Iri Seorang perempuan berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian.”

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka didalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, inipun seandainya dia masih mau shalat. Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita.

Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah pembentuk tokoh dan pendidik generasi. Darinyalah anak-anak belajar tentang nilai-nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak-akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya diatas nyawa dan darah.

Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang dari orang-orang Barat.

Yang jelas mereka adalah korban-korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.

kisah kisah diatas dikutip dari sini

18 thoughts on “Ketika Wanita Bekerja Di Luar Rumah

  1. Alhamdulillah ana sdh brhenti krja stlh hampir 15 tahun menjadi budak dunia. Semua karena ALLAH dan ilmunya yg membuka mata hati dan pikiran ana. Tulisan ini mmg benar adanya, ana pribadi sdh mengalaminya betapa rendahnya marwah wanita pekerja, setinggi apapun jabatannya, diinstansi apapun, dia sudah terjerumus dalam lingkaran syaithon. Hanya suami yg jahil msh membiarkan istrinya bekerja diluar rumah tanpa menghiraukan syariat islam.

  2. Pingback: Ketika Wanita Bekerja Di Luar Rumah « Diam Tak Selamanya Emas

  3. Kenapa ya mbak nggak memandang wanita bekerja atau mau jadi ibu rumah tangga sebagai pilihan hidup masing-masing, yang nggak usah diperdebatkan lagi?
    Menurut opini pribadi ya,
    menjadi ibu rumah tangga itu juga “profesi” yang membutuhkan kualifikasi tertentu. Jika ia adalah orang yang kreatif, aktif, dan mampu memanajemen rasa bosan tidak masalah baginya berada di rumah seharian. Jika ia bukan orang seperti itu, sebaiknya melakukan pekerjaan (yg ringan2 saja) di luar rumah agar ia tidak menjadi ibu2 yang rumpi dengan pola pikir parsial, konsumtif, kepo dengan urusan lain, dll.
    Sedangakan menjadi wanita bekerja, mungkin dia merasa harga dirinya terletak di sana. Dia merasa bahagia jika ilmunya terpakai, bisa membantu pereknomian keluarga, membantu mendanai pendidikan anak.

    Oh ya mbak, kondisi dan standar keluarga sejahtera setiap keluarga berbeda. Lagian nggak semua suami mendambakan istri bertipe ibu rumah tangga. Ada juga suami yang senang melihat istrinya jadi wanita bekerja (bukan karena ingin duitnya) karena ia membutuhkan istri bukan sebagai “pelayan”, tapi sebagai partner yang seimbang dan suami seperti ini justru merasa tersinggung kalau dia tidak dilbatkan dalam urusan domestik lho.

    Mohon jangan menghakimi kalau rumah tangga yang istrinya bekerja pasti anak dan suaminya jadi liar dan tidak bahagia.

    • itu bukan masalah perdebatan mb…tapi aturan agama Islam bg wanita…mana yg lebih baik dilakukan dan mana yg lebih mendatangkan manfaat bg wanita dan dampak bg sgla aspek kehidupan… tulisan diatas jg tdk melarang wanita kerja kok…namun ada syaratnya.
      wanita di rumah kan juga kerja mb..knp hrs bosan?…karena byk yg bisa dikerjakan dirumah dan yg lebih penting niatkan semua kegiatan kita utk berkhidmat (baca:bantu) kpd suami yg sdh seharian cari uang,,,klau sdh senggang ya manfaatkan wktu utk hal2 positif: baca buku ttg pendidikan anak, kesehatan, hub pasutri, cara mgatur keuangan dll, atau utk ibadah spt sholat dhuha’, dzikir, hafalan Qur’an, insya Allah semua berpahala. niat kita mengurus RT dgn segala kesibukkannya bernilai ibadah pula kok mb…ga sia2,,,jd gosan karena setiap yg kita lakukan orientasinya pahala dr Allah…kan suami jg ga melulu kerja ad wktu2 tertentu mngajak hangout kita2…klo masalah ibu2 gosip,pgen ini pgen itu itu ya karena mereka salah mengisi wkt luangny..,dan tdk menjaga pandangan mata mereka…jd pengen ini itu deh…klo th kelemahan kita disit ya kita hrs bs mengurangi obrolan yg ga penting…atau kumpul2 dlm acara@ yg manfaat sj,,,bkn cuma maen2…

  4. mbak bagaimana jika malah ortu yg memaksa anaknya bekerja,,,, dengan alasan bahwa tidak semua laki2 tau tanggung jawab,,,, jika kena suami sy tdk bertanggung jawab bisa2 tdk dikasih makan dsb…. maka dr sebab itu ortu memaksa anaknya untuk bekerja supaya jika suaminya macam2 anak perempuan bisa punya pegangan dan tdk sepenuhnya minta2 suami, contoh misalnya suaminya pelit, kurang dalam memenuhi nafkah ,,, sehingga istri menjadi kalangkabut ….lalu bagaimana solusi nya jika ortu berpendapat bahwa wanita harus bekerja agar tdk diremehkan suami dan agar tdk meminta2 suami ,,,,, karena tdk semua suami itu ngerti syariat islam….. solusinya bagaimana mba ? afwa dan terimakasih sebelumnya

  5. Alhamdulillah. Itulah alasan suami Melarang saya bekerja. Karena ingin istri mjd wanita yg sesuai ajaran Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s