Bahaya Filsafat: Sejarah Masuknya Filsafat Kedalam Islam

Transkrip Kajian “Bahaya Filsafat” Ustadz Ja’far Umar Thalib

Filsafat. Yang terbayang dipikiran adalah Aristoteles, Socrates, Plato, lalu patung manusia dalam keadaan berpikir/merenung plus ungkapan “Aku berpikir maka aku ada..”. bagaimana filsafat bisa masuk dan meracuni Islam? Begini ceritanya :

KETIKA MASA BANI UMAYAH

Pada Masa Bani Umayah bangsa arab ketika itu bersikap keras terhadap orang orang ‘Ajm (non arab) yang ketika itu kebanyakan dari mereka adalah budak dari negeri yang diduduki tentara muslim. Paling banyak ketika itu adalah orang orang Persia dan Romawi. Mereka punya sejarah masa lalu yaitu filsafat yang sangat mereka agungkan. Agama mereka dibangun diatas dasar falsafah yakni agama yang dibangun hasil dari pikiran dan perasaan, dan gabungan keduanya diolah sedemikian rupa kemudian di suguhkan dalam bentuk yang menipu mereka.

Dua bangsa ini bisa dikatakan bangsa yang dibesarkan oleh filsafat. Filsafat Persia dan Filsafat yunani. Dua duanya mempunyai latar belakang sendiri-sendiri. Dan ternyata keduanya bersatu dalam hal paganisme. Keduanya adalah kaum paganisme yang menyembah berhala. Kalau orang yunani menyembah bintang bintang dilangit, kalau Persia mereka menyembah api. Mereka bahwa alam ini adalah kekekalan. Mereka yakin bahwa alam ini tidak diciptakan pihak manapun tetapi ia menciptakan dirinya sendiri, yang azali (tak bermula) dan abadi (tak berakhiran). Dua bangsa ini menjepit kedudukan posisi dari bangsa arab yang darinya muncul manusia paling mulia, penutup para nabi yang Allah mengkehendaki dari agama nabinya (Islam) itu menjadi agama yang besar.

Ketika Islam ini baru dikenal dalam lingkungan yang kecil, maka lingkungan kecil ini merasa terancam dengan keberadaan agama ini. Setelah lingkungan kecil ini dengan hidayah dan pertolongan dari Allah berhasil ditundukkan kepada agama Allah, maka lingkungannya pun semakin besar. Lalu dua bangsa besar, Romawi dan Persia pun merasa terancam dan senantiasa mereka membuat makar untuk mengubur Islam di negeri asalnya sebelum menyebar di tempat lain. Namun Allah telah berjanji, bahwa agama ini akan Dia menangkan atas agama agama lainnya dan Allah tidak akan menyalahi janjinya.

Kembali ke Bani Umayah, mereka memiliki sikap yang keras terhadap bidah, syirik  dan kufur dan tidak boleh turun temurun khilafah mengangkat pejabat dari orang orang ‘ajm (non arab) karena kekhawatiran kalau kalau pemahaman para tokoh tokoh zindiq dan kufur itu meracuni pemahaman kaum muslimin.

KETIKA ZAMAN BANI ‘ABBASIYAH..

Lalu datanglah zaman ‘Abbasiyah,  yang pada masa ini mereka merasa bahwa orang orang yang berjasa terhadap berdirinya orde abbasiyyah adalah orang orang ‘ajm, dan mereka cenderung curiga kepada orang orang arab. Maka Allah pun menaqdirkan apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini ternyata menjadi pintu masuk yang besar bagi masuknya pejabat pejabat non arab. Bahkan ketika masa pemerintahan Harun AlRasyid, ‘menteri’ keuangannya adalah seorang yang beragama majusi.

Sampai kemudian datang, semacam ‘menristek‘ (demikian ustadz Ja’far menyebutnya) Yahya ibn Khalid al-Barmaki, seorang Parsi dari Persia dan seorang zindiq yang merupakan pengagum filsafat yunani. Karena dia adalah seorang pejabat negara, maka ia mengajukan agar diberikan dana yang besar sebesar dana untuk urusan militer. Belum sempat khalifah Harun Al Rasyid mengganti beliau, beliau meninggal dunia. Lalu kekalifahan pun diganti oleh Al Amin dan di ganti lagi, oleh adiknya Al Amiin, putra Harun Al Rasyid hingga datang khalifah yang kurang amanah.

KERUSAKAN DIMULAI

Selanjutnya, orang ini, Yahya ibn Khalid al-Barmaki terus mendapatkan dana yang besar beliau, mengerahkannya, mengirim para ilmuan ilmuan peneliti bidang filsafat keberbagai negeri asal yunani kuno hingga mereka menemukan suatu negeri yang dikatakan bahwa disitu terdapat bangunan tertutup tembok tebal, tanpa pintu, dan secara turun temurun orang orang romawi disekitarnya sepakat untuk tidak akan membuka bangunan itu.

Didalam bangunan itu kabarnya, ketika mereka menguasai kota Athena, mereka mendapati kitab kitab warisan dari kerajaan Alexander The Great yang perdana menterinya adalah seorang zindiiq yaitu Aristoteles, muridnya Plato, muridnya Socrates. Tapi disini Aristoteles kemudian mengembalikan pikiran Socrates yang hampir mencocoki tauhid Asma’ wa Shifat yang ada di kalangan para Nabi dan Rasul, kepada Agama Paganisme Yunani.

Maka kitab kitab itu dikumpulkan oleh tentara Romawi karena para uskub2 ketika itu menganggap kalau bangsa romawi membaca kitab ini, maka mereka akan meninggalkan agama nashoro dan menjadi Atheis. Maka mereka kumpulkan kitab itu didalam bangunan tersebut. Demikianlah Allah taqdirkan mereka mengumpulkannya, tidak membakarnya, ditutup dengan bangunan saja. Dan Yahya ibn Khalid al-Barmaki mengirim orang hingga ke bangunan itu dan melakukan negosiasi kepada pejabat romawi dalam rangka persahabatan kenegaraan, maka diizinkanlah untuk membongkar bangunan itu,  untuk meminjam isinya.

Akhirnya raja mengumpulkan para uskub dan bermusyawarah pada mereka, dan mereka bersepakat. Salah seorang uskub berkata,

“Wahai raja, bagaimana kalau tidak usah di pinjamkan.. tapi diberikan saja sebagai hadiah kepada mereka jika mereka menyukainya. Sesungguhnya tidaklah masuk kitab kitab itu ke suatu negeri melainkan akan hancurlah negeri itu karena kitab kitab itu..”

Maka gembiralah raja dengan usulan salah seorang ‘uskub’ disitu. Maka diputuskanlah untuk memberikan kitab tersebut secara cuma cuma.

Maka diambilah oleh Yahya ibn Khalid al-Barmaki ke Baghdad, dan dilakukan penerjemahan kitab kitab tersebut kedalam bahasa arab secara besar besaran. Dan disitulah dimulai berbagai kerusakan kerusakan.

KERUSAKAN YANG TAK TERBENDUNG

Sebenarnya, Berbagai bibit bid’ah sudah muncul sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Misalnya bid’ah khawarij yang sudah muncul sejak beliau masih hidup. Nenek moyangnya yang berkata “Wahai Muhammad, adillah, sesungguhnya kau tidak berbuat adil.. ” “Kalau aku dikatakan tidak adil, maka siapakah lagi yang adil dimuka bumi ini…” Akan keluar dari dia bibit bibit. Ibadahnya dibandingkan dirimu tidak ada apa apanya. Lalu muncul bid’ah rofidhoh di zaman ‘Ali.. maka mereka mereka ini ibaratkan api di dalam sekam. Tidak padam dan terus bergerak. Namun di zaman itu, mereka berhasil dipukul mundur.

Namun di zaman abasiyyah ini, zaman Yahya ibn Khalid al-Barmaki, mereka bagaikan ledakan penyakit yang dasyad seolah-olah mereka mendapatkan hujjah untuk membela bidahnya masing masing. Bahkan beliau (yahya) sebagai seorang tokoh intelektual Islam yang sangat berjasa untuk membangkitkan kembali filsafat yunani kuno yang telah di kubur di negerinya, sehingga seolah-olah ia menjadi mujaddid dikalangan mereka.

Muncul setelah itu Al Farabi, dan seterusnya..

TENTANG AGAMA FILSAFAT..

Semuanya sampai pada satu kesimpulan, bahwa kelimpahan hikmah yang paling agung, akal inilah sumber kebenaran. Oleh sebab itu, semua harus tunduk kepada akal, demikianlah itiqod (keyakinan) mereka. Hujjahnya adalah qiyas (analogi)  untuk mengqiyaskan perkara gaib, dengan perkara haadir (perkara yang dapat dicapai dengan panca indra ). Sehingga mengukur perkara ghaib dengan perkara yang tampak (haadhir).

Selanjutnya, pengenalan kepada sifat sifat Allah menjadi rusak. Mereka lalu mengukur sifat-sifat Allah berdasarkan sifat sifat makhluq, meng-qiyaskan dan menyerupakan Allah dengan makhluk, menganggap adanya unsur keserupaan antara mereka, sehingga muncul pengingkaran terhadap sifat sifat Allah, dan meyakini bahwa sifat sifat Allah serupa dengan makhluk. Ifrot (melampaui meyakini sifat sifat Allah dengan makhluq hingga mengingkari sifat2 Allah) dan tafrid (melampaui batas dalam pengingkaran, meremehkan hingga mengingkari seluruh sifat sifat Allah..).

Dalilnya agama filsafat ini adalah qiyas. Akhlaqnya adalah perdebatan dengan prinsip objektivitas. Bahwa

“.. jika kamu ingin objektif, maka kamu harus tidak terlibat sama sekali dengan keyakinan itu kemudian kamu menilainya.. baru kamu bisa objektif. jika kamu masih memiliki keyakinan terhadap perkara itu, maka kamu akan selalu subjektif..”

Thus,

“..jika kamu ingin objektif terhadap Islam, maka kamu harus tidak mempunyai keterlibatan apa apa dengan Islam. Kemudian kamu menilai dari luar Islam, apakah Islam itu benar atau tidak, setelah itu baru kamu bisa objektif. Jika orang Islam tidak mungkin bisa menilai Islam karena mereka tidak mungkin keluar dari Islam. Maka yang paling objektif menilai Islam adalah orang non muslim..”

Ibadah mereka adalah tafakkur dan takhayyun.. merenung dan merenung yang sesungguhnya ini adalah upaya setan untuk menimbulkan angan angan kepada mereka, seolah-olah kalau dia menilai sesuatu betul-betul menilai dari dirinya sendiri, maka ini adalah merupakan kekuatan kepribadian, inilah kesempurnaan seseorang. Hingga dia lebih senang menjadi pemikir, daripada menjadi seorang ‘aalim. Lebih bangga kalau yang dikemukakan adalah produk akalnya sendiri, terobosannya, untuk melakukan studi studi, dan menghasilkan produk hasil pikiran nya itu, dan menghasilkan ‘Kepastian kepastian rasional’ maka ia semakin hebat. Maka semakin dekat ia kepada Allah katanya. Inilah agama filsafat.

Dan kesudahan agama ini adalah Kebingungan. Tetapi mereka katakan kebingungan itu sebagai liberalisasi; membuka pintu ijtihad hingga mereka menyimpulkan, kebenaran adalah hal nisbi.. tidak ada yang mutlaq di alam nyata ini. Lingkaran setan terus saja menjebak mereka.  Karena ‘gengsi’ mengakui kebingungan itu, mereka mengajak banyak orang kedalam kebingungan itu dengan istilah istilah mentereng, untuk menutup kebingungannya itu.

——————————————————————————————————————-

Selesai Transkrip rekaman kajian ‘Bahaya Filsafat’ oleh ustadz Ja’far Umar Thalib

——————————————————————————————————————

dan berikut ini informasi tambahan dari situs almanhaj.or.id

ASAL MUASAL KATA FILSAFAT

Jelas-jelas kata filsafat bukan asli dari bahasa Arab. Apalagi dalam kamus syariat Islam. Ia berasal dari Yunani, negeri ‘para dewa’ yang disembah oleh manusia. Terbentuk dari dua susunan, filo yang bermakna cinta dan penggalan kedua sofia yang bermakna hikmah. Pengertian yang terbentuk dari paduan dua kata itu memang cukup menarik.

Sebagian mendefinisikan sebagai upaya pencarian tabiat (karakter) segala sesuatu dan hakekat maujûdât (hal-hal yang ada di dunia ini). Filsafat fokus pada pengerahan usaha dalam mengenali sesuatu dengan pengenalan yang murni. Apapun obyeknya, baik perkara ilmiah, agama, ilmu hitung atau lainnya.[2]

Akan tetapi, perkara terpenting yang tidak boleh dilupakan, bahwa tempat asal lahirnya kata itu adalah negeri Yunani dan keyakinan kufur generasi pertama ahli filsafat yang menjadi rujukan filsafat dunia, sudah cukup bagi kaum Muslimin untuk berhati-hati dan mengesampingkannya dari tengah umat, karena berasal dari negeri dan kaum yang tidak beriman kepada Allâh k, kaum yang menyembah para dewa. Kecurigaan terhadap output filsafat mesti dikedepankan. Doktor ‘Afâf binti Hasan bin Muhammad Mukhtâr penulis disertasi berjudul Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil ‘Aqîdah’ menyatakan, dari sini menjadi jelas bahwa filsafat merupakan pemikiran asing yang bersumber dari luar Islam dan kaum Muslimin, sebab sumbernya berasal dari Yunani [3]

ILMU FILSAFAT TIDAK ADA DALAM GENERASI SALAFUL UMMAH

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menceritakan, “Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me’luruskan’ atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti”.[4]

Karena itulah, kaum Mu’tazilah dan golongan yang sepemikiran dengan mereka tidak bertumpu pada kitab tafsir ma’tsur, hadits dan perkataan Salaf. Perkataan al-Hâfizh merupakan seruan yang tegas untuk berpegang teguh dengan petunjuk Salaf dan menjauhi perkara baru yang diluncurkan oleh generasi Khalaf yang bertentangan dengan petunjuk generasi Salaf.[5]

Syaikhul Islam rahimahullah mendudukkan, bahwa penggunaan ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang mulhid dan ahli bid’ah. Karena itu, terdapat pernyataan Ulama Salaf yang menghimbau umat agar iltizam dengan al-Qur`ân dan Sunnah dan memperingatkan umat dari bid’ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam).[6]

ULAMA BICARA TENTANG BAHAYA ILMU FILSAFAT

Melalui ilmu filsafatlah, intervensi pemikiran asing masuk dalam Islam. Tidaklah muncul ideologi filsafat dan pemikiran yang serupa dengannya kecuali setelah umat Islam mengadopsi dan menerjemahkan ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani melalui kebijakan pemerintahan di bawah kendali al-Makmûn masa itu.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Adapun sumber intervensi pemikiran dalam ilmu dan akidah adalah berasal dari filsafat. Ada sejumlah orang dari kalangan ulama kita belum merasa puas dengan apa yang telah dipegangi oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu merasa cukup dengan al-Qur`ân dan Sunnah. Mereka pun sibuk dengan mempelajari pemikiran-pemikiran kaum filsafat. Dan selanjutnya menyelami ilmu kalam yang menyeret mereka kepada pemikiran yang buruk yang pada gilirannya merusak akidah”.[7]

Ketika orang sudah memasuki dimensi filsafat, tidak ada kebaikan sedikit pun yang dapat ia raih. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Jarang sekali orang mempelajarinya (ilmu kalam dan filsafat) kecuali akan terkena bahaya dari mereka (kaum filosof)”.[8]

Karena itu, tidak heran bila Ibnu Shalâh rahimahullah memvonis ilmu filsafat sebagai biang ketololan, rusaknya akidah, kesesatan, sumber kebingungan, kesesatan dan membangkitkan penyimpangan dan zandaqah (kekufuran)[9]

Begitu banyak ungkapan Ulama Salaf yang berisi celaan terhadap ilmu warisan bangsa Yunani ini dan selanjutnya mereka mengajak untuk berpegang teguh dengan wahyu.

AL-QUR’AN DAN SUNNAH SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH

Kebenaran dengan segala perangkatnya telah dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya, tanggung jawab penyampaian kebenaran dari Allâh Azza wa Jalla itu diemban oleh insan-insan pilihan sepeninggal beliau, generasi Sahabat Radhiyallahu anhum.

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah berkata, “Sebab munculnya kesesatan ialah berpaling dari merenungi kalâmullâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan menyibukkan diri dengan teori-teori Yunani dan pemikiran-pemikiran yang macam-macam” (hal. 176, tahqiq Ahmad Syâkir rahimahullah)

Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq. Tidak ada petunjuk yang benar kecuali dalam risalah yang beliau bawa. Akal manusia mustahil sanggup berdiri sendiri untuk mengenal nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Rabbnya, Dzat yang ia ibadahi. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam didelegasikan kepada umat manusia untuk memperkenalkan mereka kepada Allâh Azza wa Jalla dan menyeru mereka beribadah kepada-Nya. Karenanya, kebanyakan orang yang terjerumus dalam kesesatan dalam memahami akidah yang benar adalah orang yang melakukan tafrith[10] dalam mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[11]

Dengan demikian, siapa saja menginginkan hidayah, utamanya dalam masalah keyakinan, hendaknya menempatkan al-Qur`ân dan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di depan mata, sehingga menjadi obor yang menerangi jalan hidupnya. Syaikhul Islam t telah menyampaikan pintu menuju hidayah dengan berkata, “Jika seorang hamba merasa butuh kepada Allâh Azza wa Jalla, kemudian senantiasa merenungi firman Allâh Azza wa Jalla dan sabda Rasul-Nya, perkataan para Sahabat, Tâbi’în dan imam kaum Muslimin, maka akan terbuka jalan petunjuk baginya.”[12]

Orang yang menghantam nash al-Qur`ân dan Sunnah dengan akal, ia belum mengamalkan firman Allâh Ta’ala berikut ini:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya [an-Nisâ/4:65]

PENUTUP
Tampak dengan jelas betapa bahaya ilmu filsafat di mata Ulama sehingga mereka memperingatkan umat agar menjauh darinya. Anehnya, ilmu yang telah mengintervensi akidah Islam ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam dan kajian-kajian Islam kontemporer, bahkan menjadi mata kuliah yang wajib dipelajari. Seolah-olah seorang Muslim belum dapat memahami al-Qur`ân dan Sunnah (terutama masalah akidah) kecuali dengan ilmu filsafat. Jelas hal ini bertentangan dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus [al-Isra/17:9]

Mari simak pernyataan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam menerangkan ayat di atas, “Dalam masalah akidah, sesungguhnya akidah yang bersumberkan al-Qur`ân merupakan keyakinan-keyakinan yang bermanfaat yang memuat kebaikan, nutrisi dan kesempurnaan bagi kalbu. Dengan keyakinan tersebut, hati akan sarat dengan kecintaan, pengagungan dan penyembahan serta keterkaitan dengan Allâh Azza wa Jalla“[13] .

Sementara Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah menyimpulkan kandungan ayat di atas dengan menyatakan bahwa pada ayat yang mulia ini, Allah k menyampaikan secara global mengenai kandungan al-Qur`ân yang memuat petunjuk menuju jalan yang terbaik, paling lurus dan paling tepat kepada kebaikan dunia dan akherat.[14]

Semoga Allâh Azza wa Jallamengembalikan umat Islam kepada hidayah-Nya. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tahâful Falâsifah 84. Nukilan dari Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil ‘Aqîdah’ 1/103. Penulis menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum kedelapan oleh kalangan ahli bid’ah
[2]. Asbâbul Khatha` fit Tafsîr , DR. Thâhir Mahmûd Muhammad Ya’qûb 1/260
[3]. At-Tanâquzh 1/103
[4]. Fathul Bâri (13/253)
[5]. Manhaj al-Hâfizh Ibni Hajar fil ‘Aqîdah, Muhammad Ishâq Kandu 3/1446
[6]. Majmû Fatâwa 7/119
[7]. Shaidul Khâthir hlm. 226
[8]. Fadh ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf hlm. 105
[9]. Fatâwa wa Rasâil Ibni ash Shalâh 1/209-212. Nukilan dari Asbâbul Khatha` fit Tafsîr 1/266
[10]. Pengertian tafrîth atau taqshîr, kurang memberikan perhatian yang layak panduan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuknya baik dengan tidak mempelajarinya atau menganggap petunjuk yang lain lebih baik.
[11]. Imam Ibnu Abil ‘Izzi t dalam mukadimah Syarh ‘Aqîdah Thahâwiyah telah menyinggung perkara ini.
[12]. Majmû Fatâwa 5/118
[13]. Al-Qawâidul Hisân al-Muta`alliqah bi Tafsîril Qur`ân, hlm. 122
[14]. Adhwâul Bayân 3/372

4 thoughts on “Bahaya Filsafat: Sejarah Masuknya Filsafat Kedalam Islam

  1. Pingback: Tentang Filsafat (1) | Al-Muntaqa

  2. Pingback: Bahaya Ilmu Kalam (Filsafat) | Abu Zahra Hanifa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s