Jawaami’ul Kalim جَوَامِعِ الْكَلمِ

Bismillah…

Sering kita dengar bahwa sifat perkataan Rasulullah صلى الله عليه و سلم adalah Jawaami’ul Kalim, yakni pada perkataannya yang singkat telah terhimpun makna yang luas dan mendalam. Tetapi, apa sebenarnya maksud dari jawaami’ul kalim tersebut? Mengapa beliau sampai disifati demikian? Apa hikmah dibalik itu?

***

Berkata penyair:

لكلّ زمان مضى آية      و آية هذا  الزمان  الصحف

Disetiap zaman yang lewat terdapat ‘ayat’ / tanda. Dan ayat/tanda pada zaman kita adalah koran (informasi/berita) [1]

Jika ayat/tanda di zaman Nabi Musa ‘alayhissalaam adalah sihir, maka ayat/tanda bangsa arab adalah balaghoh atau keindahan berbahasa. Ya. Selain berlomba lomba dengan masalah nasab dan kesukuannya, bangsa arab juga berbangga bangga dalam hal kefashihan berbahasa dan kekuatan bayan, serta keindahan berbahasa.

Bangsa arab ketika itu akrab dengan syair syair, kutbah penyemangat perang, wasiat, syair ratapan, rayuan, pujian kepada pembesar, dan lainnya. Berbahasa yang ‘hebat’ menurut mereka adalah bahasa yang kata katanya indah, lafadznya mudah dipahami bagi mereka, kalimatnya pendek pendek, maknanya dalam dan jamiil, terkadang berakhiran huruf yang sama (bersajak A-A atau A-B), dan jika dibacakan, maka memberikan bekas/atsar kepada pendengarnya. Beginilah sastra yang indah menurut mereka. Jadi mereka tak sekedar berbahasa, namun mereka berupaya agar bahasa itu terdengar efektif, indah sampai maksudnya, dan berbekas.

Rasulullah shalallahualayhi wasallam adalah orang arab yang paling fasih

Maha Suci Allah, Yang Paling Mengetahui kepada siapa memberikan amanah kerasulan untuk umat akhir zaman ini. Dia adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Haasyim bin ‘Abdimanaf. Dan Abdu-manaf adalah keturunan Adnaan dan adnaan adalah keturunan Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim ‘alayhimassalaam.

Setelah lahir, beliau disusukan kepada orang orang arab yang hidup di desa-desa. Sudah  menjadi kebiasaan bagi orang-orang arab kala itu untuk menyusukan anak-anak mereka kepada orang orang yang tinggal di gurun, dan memang ada juga kabilah kabilah yang khusus untuk pekerjaan ini. Mereka melakukannya karena hawa di gurun itu bersih, langitnya cerah, dan bahasanya terjaga. Wanita yang Allah pilih untuk menyusui Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam adalah Halimah dari bani Sa’ad, atau sering kita sebut ‘ Halimatu Sa’diyah.

Nabiyuna Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam pun hidup di tengah tengah Bani Sa’ad selama lima tahun. Selama itu juga beliau berada di lingkungan yang baik dan selamat bahasanya sehingga tumbuhlah beliau, dalam keadaan sehat badannya dan fasih lisannya.

Setelah berumur lima tahun, beliau kembali ke Mekkah. Ketika ibunya wafat, beliau di asuh oleh kakeknya Abdul Muthallib, pembesar Quraish yang selalu memanggil Nabi dengan ‘Ibni..’ (anakku) saking sayangnya ia pada cucunya ini lalu selanjutnya di asuh oleh pamannya, Abu  Thalib yang tak kalah sayanganya pada beliau. [2]

Demikianlah Allah menginginkan Rasul-Nya menjadi manusia yang paling fasih lisannya dan paling baik perkataannya, paling kuat bayannya dan memalui lisannya lah dibacakan AlQur’an yang mulia. Dilahirkan di Bani Hasyim, dibesarkan di Bani Sa’ad, lalu tumbuh di kalangan Quraisy yang seluruhnya adalah kabilah kabilah yang memiliki kedudukan tinggi dalam hal balaghoh dan kefashihan berbahasa. [3]

Jadilah beliau seorang yang sangat fasih dalam menyampaikan sesuatu. Jika berkata kata, maka kalam beliau ringkas, tapi memiliki makna yang luas, dan memberikan pengaruh kepada orang yang mendengarnya. Semakin fasih suatu kalimat, semakin mudah untuk dipahami. Inilah kelebihan yang beliau miliki.

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih Riwayat Bukhari:

بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ

Aku diutus dengan jawami’ al kalim” (HR. Al Bukhari) [4]

Jadi, yang perlu digarisbawahi: kalimatnya ringkas, lafadznya mudah, maknanya dalam dan luwass, mudah untuk dipahami dan membekas di hati orang yang mendengarnya.

Contoh contoh Perkataan Ringkas, Bermakna Dalam, dan Berbekas

1. Contoh pertama misalnya kata kata Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam dalam surat kepada Kaisar Romawi agar dia masuk Islam:

“فإن أسلمتَ فلك ما للمسلمين”

jika engkau berislam, maka bagimu apa yang (diberikan yaitu hak hak) dimiliki orang orang muslim” [5]

Beliau tidak berkata dengan kata kata yang panjang dan tidak efektif misalnya, (ini misalnya aja..)

“إذا دخلتَ إلى الإسلام، فعليّ أن نعطيك حقوق المسلمين”

jika engkau masuk islam maka wajib bagiku memberimu hak hak orang orang muslim..”

Tapi beliau menggunakan kalimat yang pendek namun dalam maknanya, efektif, dan gak boros.

2. Contoh kedua yaitu Tauqi’ (semacam muqodimah di awal surat) dari Abu Ja’far Al Manshur kepada Ahlu Kuffah ketika mereka mengadukan tentang buruknya pemerintahan ‘abbasiyah ketika itu:

“كما تكونوا يُعمّر عليكم”

Sebagaimana kalian, (maka seperti itu pula) dipimpinnya kalian” [6]

Lihatlah kalimat diatas, kalimat yang singkat sekali, cuma empat kata saja tapi maknanya dalam dan tentu meninggalkan bekas bagi yang membacanya.

3. Contoh ketiga ini adalah perkataan pembantu kerajaan yang membawakan berbagai macam barang mewah yang merupakan hadiah untuk tuannya. Ketika itu tuannya ini diberi hadiah oleh Khalifah dan tuan ini memergoki pembantu ini memandang hadiah hadiah itu hampi hampir melotot karena sangat ingin hadiah itu. Tuannya bertanya:

”هل في نفسك منها شيءٌ” | “Apakah dalam dirimu ada’sesuatu (terhadap hadiah hadiah itu)?”

Si pembantu menjawab dengan kalimat indah sekali:

“نعم، واللهِ، إنَّ في نفسي منها ما كان في نفسى يعقوب من يوسف” | “Ya.. Demi Allah.. Sesungguhnya dalam diriku ada sesuatu seperti yang ada dalam diri Ya’kub terhadap Yusuf.. (‘alayhimassalaam)” [7]

Maksudnya, ada kecintaan yang sangat besar dalam diri pembantu tersebut akan hadiah di depan matanya, seolah olah cinta tersebut seperti cintanya Nabi Ya’qub terhadap Nabi Yusuf. MasyaaAllah.. indah sekali kata katanya. Agak berlebihan memang : D

4. Contoh keempat, potongan syair penyemangat perang, syair pada zaman jahiliyyah oleh Hanii bin Qobiisah bin habii bin Mas’uud As Syaibaani:

“يا معشر بكرٍ، هالكٌ معظورٌ خيرٌ منْ ناجٍ فرورٍ ”

Wahai kabilah bakrin, binasa dalam perang lebih baik daripada selamat (tetapi) lari (dari peperangan)”[8]

Lihat kalimatnya yang pendek pendek, dan berakhiran harokat yang sama, sehingga terdengar indah, serta lafadznya mudah dan dapat dipahami oleh orang yang mendengarnya. Dan kalau perhatikan, ternyata isinya ‘sejalan’ dengan  Syariat Islam, yaitu tercelanya bahkan merupakan dosa besar bagi orang yang lari dari medan perang.

5. Contoh selanjutnya adalah kalimat pada lafadz doa-doa yang di contohkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Tentulah banyak sekali hikmah dibalik dipilihnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam sebagai Rasul dan suri tauladan umat akhir zaman. Kalau kita cermati lagi, maka akan kita temukan bahwa doa doa yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam itu indah, kalimatnya pendek dan ringkas, lafadznya juga jelas, namun maknanya dalam dan luas, tidak panjang hingga berhalaman halaman sehingga menyusahkan untuk di hapal. Contohnya saja doa sapu jagat.

“ربّنا آتنا في الدنيا حسنةً و في الآخرة حسنةً وقنا عذاب النار”

Yaa Tuhanku berikanlah aku kehidupan dunia yang baik, dan kehidupan akhirat yang baik, dan jagalah aku dari azab api neraka..

Doa ini sangat dalam maknanya. Komplit, isinya, mencakup permohonan segala kebaikan dunia dan akhirat, mudaaaah sekali di hapalkan.

Selain doa doa yang pendek dan lafadznya mudah, beliau shalallahu ‘alayhi wasallam pun mengajarkan shalawat yang begitu ringkas, dan mudah untuk dihapal. Tidak panjang panjang, hingga berlembar lembar, dan tidak berlebihan (ghuluw) dalam pujian

“…و خير الهديوا، هديوا محمّدٍ صلى الله عليه و سلم…”

Sungguh, sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

Doa doa yang diajarkan beliau itu lebih dari cukup bagi kita, mudah untuk diamalkan dan dalam maknanya. Jadi doa dari beliau ini jauh lebih utama dan mestinya yang paling pertama untuk di amalkan karena doa ini keluar dari orang arab yang paling fasih lisannya, paling kuat bekas perkataannya, paling jelas maknanya, dan ringkas. Bukan Cuma itu, beliau juga Nabi kita, teladan bagi umat ini. Maka doa doa beliau lah yang mestinya kita hapal dan baca. Ni, ada buku yang berisi doa doa sehari hari yang shahih yang dicontohkan oleh nabi shalallahu ‘alayhi wasallam namanya buku Hisnul Muslim

Jadi, tidak ragu lagi kan sekarang, bahwa doa doa yang beliau contohkan itulah yang terbaik, High quality, paling ringkas, paling dalam maknanya, paling indah, paling mudah lafadznya dan tidak memberatkan. Yuk kita amalkan dulu doa doa yang shahih ini.

Kalau Rasulullah sudah mencontohkan doa sebelum makan hanya bismillah, maka kenapa kita bikin doa lain lagi? Kalau Rasulullah sudah menunjukkan bahwa dzikir pagi dari surat Al-Qur’an itu hanya Ayat Kursi, muawwidzatain dan al ikhlas, kenapa mesti ditambah-tambahi dengan surat Al Imron, dan diperpanjang pula dengan doa Rabithah? Kalau memang semakin banyak itu semakin baik, tentu sudah di lakukan oleh beliau dan generasi terbaik bukan ?!

Islam ini sungguh indah, lagi mudah dan sederhana kalau kita mencukupkan diri dengan petunjuk yang dibawa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Karena beliau juga tidak ingin membebani umatnya, sangat belas kasih terhadap umatnya.. Ya Rasulallah..

Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu penyantun dan penyayang terhadap rang orang yang beriman.

Allahumma sholli  wa sallim ‘alaa nabiyyinaa muhammad…

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan membuat kita semakin mencintai beliau shalallahu ‘alayhi wasallam, semakin menambah keimanan dan semakin bersemangat mengikuti sunnahnya

————————————————————————————————

Sumber sumber:

[1]. Penggalan syair Ahmad Syauq dalam buku Balaaghoh wa Naqd – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Raabi’ hal: 24 | Silakan baca online atau download bukunya disini

[2]. Taarikhul Islaam – Silsilah Ta’limiyyan Mustawa Raabi’ Bab: ‘Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam Qoblal bi’tsah’ hal 30-32 | Silakan baca online atau download bukunya disini

[3]. Al Adaab – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Tsaalis Bab: ‘Al Adaab fii Ashri Sodril Islam’ hal 89 | Silakan baca online atau download bukunya disini

[4]. Copy-paste dari link: http://sunnah.blogbeken.com/2011/01/12/hidayah-adalah-anugerah-terluhur.html

[5]. Penggalan surat rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam kepada Kaisa Romawi dalam buku Balaaghoh wa Naqd – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Raabi’ hal: 16 | Silakan baca online atau download bukunya disini

[6]. Contoh contoh Tauqi’ bagian (ب) dalam buku Al Adaab – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Raabi’ Bab: ‘Tauqi’ ‘ hal 65 | Silakan download atau baca online disini

[7]. dari nashMin hilaalil Kuromaa” dalam buku Qiroo’ah – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Tsaalis hal: 36 | Silakan download atau baca online disini

[8]. Al Adaab – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Tsaalis Bab: ‘Al Adaab fii Ashril Jahilii’ hal 23 | Silakan baca online atau download bukunya disini

3 thoughts on “Jawaami’ul Kalim جَوَامِعِ الْكَلمِ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s