Berbahasa Fushah | Fasih Berbahasa Arab

Nyalin

Bismillah..

Seperti yang sudah kita tahu, bahasa arab itu ada dua macam, bahasa fushah dan bahasa ‘aamiyah (bahasa ‘pasar/gaul).

Bahasa ‘aamiyah adalah bahasa ‘pasar’ atau bahasa gaul yang berbeda beda di tiap negara arab. Bahasa arab satu ini akan terus berkembang, dan berkembang. Misalnya jika dikatakan “..igrii..” maka orang-orang di Sudan akan mengambil buku lalu membacanya karena igrii disana artinya “Iqro’i..” Tetapi jika di katakan kepada orang orang Mesir, mereka akan berlari karena huruf ‘ja‘ dibaca ‘gho‘ di Mesir sehingga artinya menjadi “..Ijri..” gitu cerita ustadzah.

Sedangkan bahasa fushah adalah bahasa baku, bahasa Al-Qur’an yang mulia. Apa sebenarnya arti dari Fushah itu? Fushah  yaitu suatu kalimat yang maknanya jelas, lafadznya mudah, benar penulisannya (sama antara pelafadz-an dan penulisan) dan sesuai dengan kaidah bahasa arab (nahwu dan shorofnya) [1]. Bahasa fushah ini juga yang dipakai oleh Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabat, dan bahasa yang sangat dianjurkan untuk kita pelajari saat ini, yang tidak akan pernah berubah hingga hari kiamat nanti, tetap terjaga sampai hari kiamat sebagaimana terjaganya Al-Qur’an. Mudah mudahan diberikan kesempatan nyalin tentang pengaruh AlQuran dan Hadits terhadap Bahasa Arab. In syaa Allah

Orang orang arab pada zaman jahiliyyah berbahasa arab fushah sehingga muncul dari mereka penyair penyair yang memiliki kefashihan berbahasa dari kalangan laki laki maupun perempuan. Mereka berbahasa arab dengan fitrah tanpa kesalahan. Rasulullah adalah orang arab yang paling fasih dan  para sahabat beliau pun orang orang yang sangat fasih sekali berbahasa arab sehingga mereka tidak perlu lagi mempelajari bahasa arab karena sudah fitrahnya mereka berbicara dengan bahasa arab.

Ibnu Syubrumah berkata: “Aku tidak melihat ada pakaian yang lebih baik bagi seorang lelaki daripada kefashihan, dan gemuk bagi seorang wanita. Sesungguhnya ketika seseorang berbicara dengan (memperhatikan) i’rab, seolah olah dia memakai pakaian sutra yang kehitam hitaman. dan sesungguhnya ketika seseorang berbicara dan melakukan lahn seakan akan ia memakai kain yang lusuh

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah berkata: ‘Ketahuilah, bahwasanya membiasakan diri dengan bahasa (arab) akan sangat mempengaruhi akal, akhlaq dan agama. Juga akan mempengaruhi keserupaan dengan generasi awal umat ini dari kalangan sahabat dan tabi’in. Menyerupai mereka akan menambah dalam hal akal, agama dan akhlak. Juga, bahasa arab itu sendiri merupakan bagian dari agama, dan mengetahuinya merupakan suatu kebawajiban. Karena memahami AlQur-an dan assunnah adalah wajib, sedangkan keduanya tidak bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa arab. Dan suatu hal yang tidak akan sempurna sebuah kewajiban kecuali dengannya, maka hal itu juga wajib.”

Betapa butuhnya kita mempelajari bahasa arab yang fushah agar lisan kita lurus dan akal kita bertambah mirip dengan generasi awal umat ini. Kenapa dengan generasi awal? Karena merekalah yang dikabarkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallamsebagai sebaik baik ummat ini

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

“Belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198) [2]

Kesalahan Dalam Berbahasa Arab

Kesalahan (lahn) dalam bahasa arab mulai muncul ketika bangsa arab mulai banyak berinteraksi dengan bangsa ‘ajm (non arab) dan kaum muslimin menaklukan banyak negeri, mulai muncul lahn (kesalahan bahasa) pada generasi berikutnya. Lalu disusunlah kaidah kaidah dan ushul bahasa arab

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah berkata: “Dahulu para salaf menghukum anak anak mereka karena lahn. Maka kita diperintahkan dengan perintah yang wajib atau mustahab untuk menjaga aturan bahasa arab, dan memperbaiki lisan yang melenceng darinya, sehingga akan terjaga bagi kita cara memahami AlQur’an dan As-Sunnah, serta meneladani bangsa Arab dalam pembicaraan mereka. Seandainya manusia dibiarkan di atas lahn mereka, itu merupakan sebuah kekurangan dan aib.”

Abdullah ibnul Mubarak berkata: “Lahn dalam berbicara lebih buruk daripada cacar di wajah”

Berbahasa fushah versus berbahasa ‘aamiyah

Mungkin akan ada yang mengatakan, “Bahasa pasaran (‘aamiyah) adalah suatu keharusan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka“. Maka dijawab oleh Dr. Fathi Jum’ah, guru besar ilmu bahasa di Fakultas Darul Ulum, Kairo, percakapan yang sesuai dengan kemampuan akal tidaklah berarti menjatuhkan kedudukan bahasa atau penurunan kualitas pembicaraan, atau dengan serta merta mengesampingkan bahasa yang fasih (fushah). Yang dimaksud “sesuai kemampuan akal” adalah menghindari keruwetan jalan berfikir, dan berdalam dalam dalam hal bahasa. Artinya sengaja memilih susunan kalimat yang sulit dan kata kata asing yag tak lazim digunakan.

Adapun lebih cenderung memilih bahasa pasaran dengan sangkaan agar dipahami orang awam (kalau bukan merupakan basa basi terhadap ketidakmampuannya menggunakan bahasa yang fasih atau sedikit) adalah sangkaan yang mendzalimi bahasa fasih (fushah) dan bahasa pasaran (‘aamiyahsekaligus!

Sangkaan ini mendzalimi bahasa fushah, karena disangka bahwa bahasa fushah tidak bisa dipahami padahal, sungguh bahasa yang fasih itu bisa di pahami. Dan mendzalimi orang orang awam dari sisi menganggap mereka tidak mampu memahaminya. Bila tidak demikian, bahaimana mereka bisa khusyu’ mendengarkan bacaan Al-Qur’an, dan bisa mengambil manfaat dari nashehat yang gamblang serta penjelasan yang baik?

Gimana? InsyaaAllah makin semangat ya belajar bahasa arabnya?!

Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrikaa wa syukrika husnii ‘ibaadatika..

..Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa berdzikir kepadamu, dan bersyukur dan memperbaiki ibadah kami..”

————————————————————————–

Sebagian besar nyalin dari buku “Mahkota Yang Hilang (التاج المفقود) Faishol bin ‘Abduh Qo’id al Hasyidi, Bab: Kefashihan dan Sastra. Penerbit: CAHAYA ILMU PRESS. Pinjeman dari Ummu ‘Ali; Jazaahallahu khairaa

[1]. Balaaghoh wa Naqd, Bab: Muqoddimah hal: 18 – Silsilah Ta’limiyyah Mustawa Raabi’ hal: 24 | Silakan baca online atau download bukunya disini

[2]. Dari Artikel: Inilah Generasi Terbaik dalam Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s