Maryam binti ‘Imran dan Musa bin ‘Imran

Tidakkah anda memperhatikan bahwa Maryam adalah puteri Imran dan saudaranya adalah Harun. Demikian pula Musa, putera ‘Imran dan saudaranya Harun, akan tetapi Maryam bukanlah saudara perempuan Musa, karena keduanya terpisah dalam kurun waktu yang sangat lama. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya tentang hal ini, beliau menjawab:

إنهم كانوا يسمون بأنبيائهم و الصالحين قبلهم

“Sesungguhnya mereka menamakan (anak-anak mereka) denan nama para Nabi dan orang-orang shalih sebelum mereka”

Demikianlah diungkapkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits al-Mughirah bin Syu’bah (HR. Muslim no. 2135)

Al- mughirah bin Syu’bah berkata, ketika aku datang ke Najran, mereka (penduduk Najran) bertanya kepadaku, ‘Sesungguhnya kalian membaca (dalam al-Quran):

يأخت هرون…

“Wahai saudara Harun…’ (QS. Maryam: 28)

Padahal Musa berada sebelum ‘Isa dalam beberapa kurun waktu. Ketika aku menemui Rasulullah صلى الله عليه و سلم aku bertanya kepada beliau tentang hal itu dan mengatakan sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Syaikh Bakar bin ‘Abdillah Abu Zaid berkats dalam kitabnya Tasmiyatul Maulud, “Wahai saudaraku sesama muslim, aku ulangi untuk menegaskan dan aku mengingatkan dengan kebenaran. Sesungguhnya sebuah nama adalah judul atau ciri bagi seseorang, sebagaimana sebuah buku dilihat dari judulnya. Demikian pula seseorang diketahui keyakinan dan sudut pandang pemikirannya dari namanya, bahkan keyakinan orang yang memilih baginya sebuah nama bisa diketahui dari nama yang ia berikan.”

Dan diantara ungkapan yang sering terdengar adalah setiap nama sesuai dengan kepribadian orang yang memiliki nama tersebut.

Dikatakan pula:

و قل إن أبصرت عيناك ذا لقب
إلا و معناه في اسم منه أو لقب

Sedikit sekali jika kamu membuka mata dan melihat seseorang yang memiliki julukan,
Kecuali dia sesuai dengan makna nama dan julukan yang dimilikinya

Dari sini, maka diantara pemahaman yang biasa digunakan didalam bahasa arab adalah bahwasanya sebuah makna diambil dari susunan kata yang digunakan, karena susunan ini menunjukkan kepada maknanya.

Karena itu Anda melihat -sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul Qayyim- kebanyakan orang bodoh sesuai namanya, dan kebanyakan orang mulia sesuai dengan namanya.

Akhirnya, nama adalah cerminan dari wawasan dan petunjuk atas kepribadian orang yang memberikan nama tersebut.. (Bisa ayah, ibu, nenek, dan lainnya).

Diantara ungkapan yang terwarisi dari para leluruh adalah,

“Dari namamu aku mengenal bapakmu”

***********

Di comot dari “Anakku, Sudah Tepatkah Pendidikannya?” (Judul asli: Fiqh Tarbiyatul Abnaa). Mushthofa Al-Adawi. 2009. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir. Hal 77-81

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s